Gambar BengkuluNews

Kerakusan Struktural di Industri Ekstraktif: Kejahatan terhadap Kemanusiaan

Kerakusan Struktural di Industri Ekstraktif: Kejahatan terhadap Kemanusiaan

Oleh : Muhammad Prihatno

(Serial tulisan tentang Tolak Tambang Emas Bukit Sanggul Seluma)

Kemanusiaan merupakan puncak tertinggi peradaban manusia. Ia bukan sekadar konsep abstrak, melainkan fondasi yang menjamin martabat, otonomi, dan harmoni antara individu dengan lingkungannya. Dalam kerangka ini, kedaulatan manusia atas dirinya sendiri—termasuk hak atas tanah, budaya, dan lingkungan—menjadi ciri utama peradaban yang berorientasi pada kemanusiaan. Tanpa kedaulatan tersebut, peradaban bukan lagi sarana pembebasan, melainkan alat penindasan.

Industri ekstraktif, dengan segala ekspansinya, telah menjadi ancaman nyata terhadap peradaban kemanusiaan. Kerakusan struktural yang melekat di dalamnya—didorong oleh motif keuntungan tak terkendali—merusak tatanan dasar kehidupan manusia.

Pertama, industri ini merampas kedaulatan petani atas tanahnya, mengubah pemilik menjadi buruh tani yang bergantung pada korporasi asing atau domestik. Tanah yang semula menjadi sumber kemandirian dan identitas kini berubah menjadi komoditas, meninggalkan petani dalam kemiskinan struktural dan ketergantungan abadi.

Kedua, penghancuran budaya lokal menjadi konsekuensi tak terelakkan. Ekspansi tambang, perkebunan skala besar, atau proyek ekstraktif lainnya menghapus situs-situs sakral, tradisi lisan, dan pola hidup komunal yang telah bertahan berabad-abad. Manusia setempat kehilangan identitas kemanusiaannya, direduksi menjadi elemen perifer dalam mesin kapital global. Budaya bukan lagi warisan hidup, melainkan relik yang terkubur di bawah lapisan debu pertambangan.

Ketiga, industri ini mendidik—atau lebih tepat, memaksa—masyarakat lokal untuk menjadi permissif terhadap kerusakan ekologis. Melalui propaganda pembangunan, kompensasi semu, atau ancaman penggusuran, manusia diajarkan untuk menerima banjir, longsor, dan pencemaran sebagai “harga kemajuan”. Ini bukan pendidikan, melainkan indoktrinasi yang merusak kesadaran ekologis dan etika kemanusiaan.

Manusia Indonesia, dengan segala keragaman budaya dan potensi spiritualnya, tak elok jika hanya dinilai dari sisi ekonomis semata. Nilai GDP, ekspor mineral, atau investasi asing tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran kemajuan. Manusia bukan variabel ekonomi; ia adalah subjek berdaulat yang berhak atas kehidupan bermartabat. Mengukur bangsa hanya melalui lensa materi berarti merendahkan esensi peradaban itu sendiri.

Pada hakikatnya, menjadi manusia sejati—dengan segala dimensi spiritual, budaya, dan ekologisnya—haruslah tujuan utama pembangunan. Pembangunan yang sejati bukanlah akumulasi kekayaan, melainkan pemenuhan potensi kemanusiaan secara holistik.

Industri ekstraktif yang dibarengi kerakusan struktural justru menjadi mesin utama perusak peradaban kemanusiaan. Ia menciptakan ketidakadilan sistemik, menghancurkan harmoni alam, dan mereduksi manusia menjadi alat produksi.

Oleh karena itu, kerakusan struktural di industri ekstraktif bukan sekadar pelanggaran etika bisnis; ia adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Ia melanggar prinsip dasar peradaban: kedaulatan, identitas, dan keberlanjutan. Untuk mempertahankan puncak kemanusiaan, kita harus menolak model ini dan membangun alternatif yang berpihak pada manusia sejati, bukan mesin keuntungan. Hanya dengan demikian, peradaban Indonesia dapat bertahan sebagai warisan yang bermartabat bagi generasi mendatang.

***

{Semua yang diuraikan di atas, tak menutup kemungkinan, akan terjadi pada masyarakat Seluma kalau Tambang Emas Bukit Sanggul beroperasi.}

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!