Kakek 83 Tahun Ini Mengais Rezeki Melalui Potongan Cermin

Bachtiar, warga Panorama Kota Bengkulu. Foto : Lucya
Bachtiar, warga Panorama Kota Bengkulu. Foto : Lucya

KOTA BENGKULU – Bachtiar, seorang kakek berusia 83 tahun yang masih semangat mengais rezeki di usia senja.Tubuh bungkuknya tidak pernah kalah mendorong sepeda yang bannya kempis sembari membawa potongan-potongan kaca cermin dari meubel untuk dibuat cermin utuh yang biasa digunakan orang-orang. Sepeda miliknya itu memang tidak pernah ia kendarai, entah karena ban-nya kempis atau karena memang ia hanya berniat membawa barang-barangnya menggunakan sepeda tua itu pulang ke rumah.

Kakek Bachtiar lelah. Dia duduk membelunjur di lantai melepas lelah sambil mengipas-ngipas dengan topi yang dia kenakan. Tidak ada kursi diruang tamu. Hanya segelas air putih yang ada di hadapannya untuk melepas dahaga.

Dari jelinya mata dan lincahnya jemari merakit potongan kaca cermin tak layak pakai menjadi layak pakai-lah Kakek Bachtiar meraup pundi-pundi uang yang tidak terlalu besar demi bisa makan sehari-hari bersama anaknya, Yanti. Untuk ukuran kecil kaca cermin yang dihasilkan oleh kreatif jemarinya hanya dia jual seharga Rp. 3000 saja, sedangkan ukuran besar harga menyesuaikan.

Bachtiar, warga Panorama Kota Bengkulu. Foto : Lucya

Kehidupan Kakek Bachtiar tidak berhenti disitu. Kakek bachtiar sudah lama ditinggal istrinya yang meninggal dunia dan dia hanya tinggal berdua dengan anaknya yang juga seorang janda tanpa anak di sebuah kontrakan sederhana dekat lampu merah Panorama dengan uang sewa Rp.500.000 per bulan.

Di usia 83 tahun, bukan mustahil Kakek Bachtiar sering sakit-sakitan, namun dia tidak pernah mengeluh apalagi sampai berhenti bekerja. Kakek Bachtiar sendiri mengidap penyakit prostat (sering buang air kecil), bahkan baru seminggu ini Kakek Bachtiar bisa bergerak lincah setelah beberapa minggu dipakaikan pada alat vitalnya. Yanti mengatakan kalau ayahnya itu sempat mau di operasi namun dokter menolak dengan alasan usia Kakek Bachtiar sudah tidak bisa menampung jenis obat-obatan yang dosisnya terlalu keras.

”Bapak ini kalau tidak kerja dia tidak mau. Disuruh diam dirumah saja dia tidak mau. Padahal baru sembuh dari,” ujar Yanti anak Kakek Bachtiar.

Kakek Bcahtiar, hidupnya seperti tidak ingin ditanya tentang harapan. Dia pengais cermin, penjual cermin, dan dia seorang lelaki tua hebat yang mengalahkan seribu pemuda gagah yang kini tidak bisa bercermin pada kehidupan diluar sana

Baca Juga
Tinggalkan komen