Logo

Independensi: Perjuangan Meletakkan Nilai Kepemimpinan

Oleh: Yurmartin

Agama dan pengabdian, adalah nilai dalam memiliki dan memberikan bakti terhadap seluruh aktifitas kemanusiaan yang dipandang bermanfaat dan memberikan banyak dampak kebaikan. Karenanya, beragama dan mengabdi merupakan wujud pemberian hakiki yang selamanya akan berhubungan dan akan menjadi pertanggungjawaban setiap insan.

Untuk mendapatkan nilai dan bakti dalam beragama dan nilai dalam mengabdi, setiap orang wajib memiliki dasar sebuah kehendak perjuangan dari dirinya dan mengakui pentingnya sebuah kesadaran keadaan yang membutuhkan kebaikan dan penataan lebih lanjut yang berkenaan dengan kesejahteraan hidup dan hasilnya setelah itu.

Pandangan ini, dalam setiap lembaran paparan politik sosial masyarakat, menunjukkan bahwa, setiap diri yang bertanggungjawab akan nilai dan bakti, akan senantiasa melakukan dan memberikan kemampuan terbaiknya serta menjaganya untuk mendapatkan spirit lebih dalam memberikan nilai hidup dan pengabdian. Perilaku seperti inilah yang disebut dengan perilaku kepemimpinan. Kepemimpinan yang seperti ini akan senantiasa menjadi sejarah dan simbol sebuah perjuangan untuk setiap generasi dimasa-masa selanjutnya.

Terdapat berbagai jenis kepemimpinan yang ada di dalam masyarakat sebuah negara yang telah termaktub dalam berbagai jenjang yang di atur permanen dalam undang-undang.

Di antara kepemimpinan yang jarang menjadi pembahasan dalam sebuah perhelatan politik kepemimpinan adalah jalur perseorangan atau Independen. Meskipun bukan pembahasan baru, namun kepemimpinan jalur Independen merupakan media pertarungan yang sangat penting untuk diperhitungkan.

Kepemimpinan Independen dalam konteks bernegara dan pemerintahan Republik Indonesia adalah kepemimpinan yang membuka ruang yang seluas-luasnya untuk mendistribusikan kemampuan setiap individu warga negara, baik di tingkat pusat maupun daerah dalam hal menyalurkan aktifitas dan efektivitas politik yang kondusif, edukasi yang kreatif, gagasan yang konstruktif serta bersatunya perbedaan yang saling menguatkan dan menguatnya pola kerja berseberangan untuk saling berkarya dalam pembangunan, kemanusiaan dan pengelolaan sumber daya alam seutuhnya.

Dalam konteks agama, lahirnya dasar kepemimpinan Independen merupakan sebuah “Amanah itu sendiri, ia adalah esensi penerus sebelumnya yang diletakkan berdasarkan kemurnian haq yang tidak melangkahi. Memiliki kekuatan kepentingan umum yang bersandar pada akurasi bukti dan rekomendasi orisinal. Sedangkan dalam konteks mengabdi, dasar kepemimpinan Independen adalah memberikan dan mensederhanakan nilai-nilai politik masyarakat agar berpandangan maju dalam melakukan akselerasi pembangunan dan peningkatan sumber daya manusia serta alamnya dalam rangka perubahan dan peningkatan taraf hidup. Masyarakat diberikan tindakan nyata terhadap kepentingan umum dan hak-hak hidup orang banyak.” (Yurmartin, dalam Catatan Edukasi dan Gagasan Politik Masyarakat Pinggiran).

Kehadiran kepemimpinan jalur Independen khususnya dari kalangan “Anak Muda”, adalah model utama dari transformasi kepemimpinan yang menggerakkan kekuatan iklim politik baru dalam hal kepemimpinan masa depan. Adanya tokoh Independen untuk sebuah daerah, bukan hanya untuk melanjutkan estafet sebelumnya, tapi memperjuangkan kemandirian masyarakat yang lebih besar. Independensi dalam akurasi politik dan pergerakannya untuk masyarakat, setidaknya pertama, dapat disinyalir kuat memotong dan memberikan dampak signifikan yang mampu memangkas jauh subjektivitas dan politik uang. Dengan independensi, partisipasi politik masyarakat di sadarkan dengan melihat kemampuan, hubungan sosial dan etika perseorangan yang berkeinginan maju dan mengelola kemandirian masyarakat dan kemajuan daerah secara bersama. Masyarakat akan terjauhkan dari sentimen dan intimidasi politik uang baik secara emosional maupun parsial yang telah tercekoki selama ini. Dengan demikian, masyarakat akan mengambil kebebasannya sendiri tanpa sentimen dan politik uang dalam menentukan kepemimpinan masa depan.

Kedua, memotong kekuatan politik jaringan tertentu. Dengan Independensi, masyarakat di ajak untuk melek politik tentang betapa kurang menguntungkannya politik jaringan dan keberpihakan partai yang hanya mempersempit ruang karya seluruh pilihan masyarakat. Sedangkan sebuah kemandirian dan kemajuan mutlak mengutamakan konektifitas sosial sebagai syarat promosi sebuah daerah yang diperhitungkan daerah lain dan dunia luar, bukan konsepsi sepihak jaringan politik yang selalu mengedepankan tendensi dan ambisi bahkan tak jarang menghilangkan harga diri.

Kepemimpinan Independen mengajak semua jaringan bersatu padu untuk membangun kesadaran dan kesepahaman daerah dengan mengutamakan terangkatnya hak-hak masyarakat daerahnya yang diperuntukkan bagi kemajuan bersama pula. Cara pandang Independen dalam hal ini adalah, bekerja untuk kemakmuran daerah dengan membuang jauh pola dan sikap pragmatisme, dogma jaringan dan keraguan akan potensialitas daerah yang dimiliki. Sehingga secara khusus, memberikan konsistensi menyeluruh untuk bersatu padu membangun dan menjadikan sebuah daerah menjadi lebih baik, maju dan unggul dalam setiap persaingan dan pertarungan global.

Tiga, menghempaskan politik kekeluargaan. Independensi diletakkan atas dasar pergerakan semua kalangan dan kepentingan serta menjadi simbol semua orang, tanpa dominasi dinasti atau cara pandang kekeluargaan yang menyesatkan atau strata sosial tertentu atas dasar tinggi rendahnya nilai ekonomi dan pertarungan kelas.

Independensi memberikan ruang ekspresi sendiri terhadap pribadi-pribadi masyarakat, baik yang terlemah atau yang lebih visioner dalam menggunakan hak pilihnya untuk mengutamakan kepentingan rakyat dan memenuhi harapan atau ekspektasi terbaru pembangunan sebuah daerah yang dicintai.

Independensi adalah nilai utama ketokohan dari sebuah produk baru masyarakat yang lahir dan tercerahkan yang selaras dengan nilai agama dan pengabdian yang sentrum gerakannya telah ditanamkan atas dasar ketuhanan dan kemanusiaan demi masyarakat yang berkemajuan, bukan atas atas dasar gerakan notifikasi atau ambisi duniawi tak berarti.

Perjuangan Independen adalah milik masyarakat pada umumnya, terkhusus untuk masyarakat Bumi Rafflesia yang tengah berjuang di dalamnya. Karenanya, api semangat yang berkobar harus terpancar lebar dan doa bersama yang tinggi tanpa tersaingi wajib di hantarkan untuk mewujudkan kepemimpinan Independen yang berguna dan berdaya saing tinggi bagi terciptanya keharmonisan dan leburnya ketiranian atas nama pemimpin pemerintahan sebuah daerah, bangsa atau negara.

Selanjutnya mari bersama-sama untuk menyatakan kepastian keberpihakan dari sebuah perjuangan dan menyatakan lahirnya Kepemimpinan Muda Independen Masa Depan..?!

 

Penulis adalah:

– Penggiat Tasawuf Indonesia

– Dir. Peradaban Indonesia Emas