
BENGKULU – Hutan di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, perlahan mulai hilang. Pohon-pohon yang dulu menjadi pelindung kini berganti dengan lahan terbuka. Kawasan yang selama ini menjadi habitat Gajah dan Harimau Sumatera, kini rusak oleh perambahan yang terus meluas.
Kerusakan hutan itu membawa dampak yang nyata bagi kehidupan warga. Di Desa Gajah Makmur, Kecamatan Malin Deman, masyarakat kini hidup dalam ketakutan.
Satwa liar yang kehilangan tempat tinggal mulai turun ke pemukiman. Harimau memangsa ternak, gajah merusak tanaman, dan beruang berkeliaran di sekitar ladang.
“Disaat mereka merasa tak nyaman di dalam sana, satwa liar itu terpaksa masuk ke pemukiman. Keganasan satwa liar ini sangat menakutkan. Beberapa tahun belakangan ini sudah hampir 20 ekor sapi warga dimangsa harimau,” tutur Kepala Desa Gajah Makmur, Gutomo.
Kegelisahan warga bukan hanya karena satwa liar yang turun, tapi juga akibat rusaknya keseimbangan alam. Saat musim kemarau, sumber air yang dulu melimpah kini mengering. Namun, ketika hujan turun, air justru meluap dan menggenangi pemukiman.
“Kekeringan air juga kami rasakan. Mata air makin mengecil. Kalau hujan sedikit saja, langsung banjir,” kata Gutomo.
Aktivitas perambahan disebut mulai terlihat sejak awal tahun 2023. Namun dalam dua tahun terakhir, kerusakannya semakin parah.
Sejumlah warga menyebut ada pihak-pihak yang masuk membawa alat berat untuk membuka jalan di kawasan hutan. Setelah itu, kayu-kayu besar ditebang dan lahan dibuka untuk perkebunan sawit.
“Mulai-mulainya perambahan hutan ini sejak awal tahun 2023. Tapi mulai menggila sejak 2024 dan sekarang,” ungkap salah seorang warga Mukomuko.

Warga menduga, aksi ini bukan dilakukan oleh masyarakat kecil semata. Ada kekuatan besar di baliknya, mereka yang memiliki modal, alat berat, dan mungkin perlindungan dari pihak tertentu.
“Kalau kita pikir logika saja, pasti ada yang backing. Masyarakat biasa mana sanggup buka lahan belasan hektar. Butuh biaya besar,” ujarnya.
Ironisnya, sebagian area yang dirambah kini sudah masuk ke kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), wilayah konservasi yang seharusnya dilindungi ketat. Sekitar empat hektar lebih kawasan taman nasional kini rusak akibat aktivitas perambahan.
“Perambahannya sudah sampai ke taman nasional. Rumah gajah dirusak. Akibatnya mereka turun ke kampung,” tambahnya.
Kerusakan hutan bukan hanya tentang hilangnya pepohonan, tapi juga tentang hancurnya rumah bagi satwa langka dan terganggunya kehidupan masyarakat yang bergantung pada alam.
Setiap pohon yang tumbang berarti hilangnya pelindung dari bencana, hilangnya sumber air, dan rusaknya keseimbangan ekosistem yang selama ini menjaga kehidupan.

Kini, masyarakat hanya bisa berharap pemerintah segera turun tangan. Perlu langkah nyata dan tegas untuk menghentikan perambahan yang terus terjadi.
Karena setiap hari yang dibiarkan tanpa tindakan, berarti satu bagian lagi dari hutan Bengkulu hilang. Bersama itu, lenyap pula harapan bagi Gajah, Harimau Sumatera, dan manusia yang hidup di sekitarnya. Pemerintah harus segera bertindak, sebelum alam benar-benar marah.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!