Logo

Rekor MURI Membaca, Apdian: Lebih Kedepankan Sensasi daripada Esensi

 

Bengkulu Selatan, bengkulunews.co.id – Agenda prestisius Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan, yang berupaya memecahkan rekor MURI gerakan literasi atau membaca tak lama lagi akan digelar.

Berbagai problematika pun dinilai tak luput mengikuti dalam upaya ambisius pemerintah daerah melalui Dinas Perpustakaan dan Arsip Bengkulu Selatan ini sendiri.

Rencananya akan mengerahkan minimal 100.000 massa sebagai upaya pemecahan rekor milik Pemkot Sidoarjo, dimana konsentrasi massa ditumpuk sepanjang Jalan A.Yani hingga Gedung DPRD Taman Merdeka.

Menurut Apdian Utama, SE, salah seorang warga Kota Manna, langkah Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan, yang berencana menggelar pemecahan rekor gerakan literasi ini tergolong memaksakan diri, terlebih terdapat perbedaan mencolok antara Pemkot Sidoarjo selaku pemegang rekor sebelum, dengan Pemda Bengkulu Selatan.

“Upaya pemecahan rekor MURI ini lebih terkesan cari sensasi ketimbang mengedepankan esensi yang diraih, perlu diketahui Pemkot Sidoarjo itu jumlah penduduknya saja lebih dari 1 juta ketimbang Manna yang hanya berkisar 150 ribu, dan lagi jumlah anggaran tentu jauh lebih besar pula,” ujar Apdian.

Lanjut Apdian, sebagai jurnalis dan pegiat dunia tulisan, dirinya paham betul soal lemahnya minat baca tulis khususnya di Bengkulu Selatan masih sangat rendah.

Dikatakannya, bukan bermaksud menolak gerakan literasi akan tetapi minat baca tidak serta merta akan muncul melalui kegiatan seremonial, apalagi harus memaksakan diri memecahkan rekor MURI, dengan pengerahan massa sedemikian banyak yang jelas akan berimbas juga pada anggaran yang tidak sedikit.

“Anggaran event akbar ini tidak sedikit, sumbernya dari mana? Apalagi menggelontorkan hadiah besar-besaran segala. Banyak hal penyebab minat baca rendah lho, mulai dari taraf hidup masyarakat kita yang masih rendah, jangankan untuk membeli buku makan layak saja masih sulit,” tegas Apdian.

Ditambahkan Apdian, kalau hanya ingin meraih esensi, cukup bijak kiranya pemerintah daerah menggelar kegiatan bertemakan “Book Fair” di Kota Manna dengan menggandeng pihak penerbit untuk menyediakan buku langsung ke tengah-tengah masyarakat, menggelar kegiatan lomba baca tulis di berbagai jenjang baik pendidikan atau sosial masyarakat.

Jika ingin meriah dan meninggalkan kesan bagus, saran dia lagi, undang Novelis, public figure, atau Duta Baca Nasional entah itu dari pelaku dunia pendidikan ataupun kalangan pekerja seni, setali tiga uang, hakikat membaca diperoleh sisi entertain pun bisa diraih.(heru)