Pembuatan Pupuk Organik Cair dalam Bioteknologi Tanaman

Oleh : Lusiana Septiriyani

TENTU kita semua banyak mengeluhkan sampah atau limbah-limbah seperti limbah dapur, limbah sayuran yang berserakan yang ternyata jika diolah akan berguna menjadi pupuk cair dan bermanfaat bagi tanaman. Selain untuk pupuk, pupuk cair juga bisa menjadi aktivator untuk membuat kompos. Pupuk cair sepertinya lebih mudah dimanfaatkan oleh tanaman karena unsur-unsur di dalamnya sudah terurai dan tidak dalam jumlah yang terlalu banyak sehingga manfaatnya lebih cepat terasa. Bahan baku pupuk cair dapat berasal dari pupuk padat dengan perlakuan perendaman. Setelah beberapa minggu dan melalui beberapa perlakuan, air rendaman sudah dapat digunakan sebagai pupuk cair, sedangkan limbah padatnya dapat digunakan sebagai kompos.

Pupuk organik sendiri merupakan pupuk dengan bahan dasar yang diambil dari alam dengan jumlah dan jenis unsur hara yang terkandung secara alami. Dapat dikatakan bahwa pupuk organik merupakan salah satu bahan yang sangat penting dalam upaya memperbaiki kesuburan tanah secara aman, dalam arti produk pertanian yang dihasilkan terbebas dari bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia sehingga aman dikonsumsi

Menurut Palimbungan (2006) penggunaan pupuk cair dapat memudahkan dan menghemat tenaga. Keuntungan pupuk cair yaitu pengerjaan pemupukan akan lebih cepat, penggunaanya sekaligus melakukan perlakuan penyiraman sehingga dapat menjaga kelembaban tanah, aplikasinya bersama pestisida organik berfungsi sebagai pencegah dan pemberantas penggangu tanaman. Jenis tanaman pupuk hijau yang sering digunakan untuk pembuatan pupuk cair.

Contohnya daun johar, gamal, dan lamtorogung. Sedangkan Widyatmoko dan Sitorini (2001) melaporkan kualitas hasil pembuatan pupuk cair pada prinsipnya ditentukan oleh bahan baku, mikroorganisme pengurai, proses pembuatan , produk akhir dan pengemasan. Bahan baku dengan konsisi yang masih segar dan semakin beragamnya jenis mikroorganisme maka akan membuat kualitas pupuk cair organik yang dihasilkan menjadi semakin baik kandungannya.

Oleh sebab itu, perlunya mempelajari cara pembuatan pupuk organik caik agar dapat menciptakan pertanian yang aman dan ramah lingkungan.

p-439x478.jpg

 

Bahan yang diperlukan:

  1. 15 kg bahan organik sampah rumah tangga (sisa sayuran dari pasar)
  2. Kotoran ayam 20 kg
  3. EM4 50 ml
  4. Gula merah 100 g
  5. Air 50 l

Alat yang dibutuhkan:

  1. Parang/pisau 4 buah
  2. Talenan 4 buah
  3. Ember volume 100 L dua buah
  4. Termometer 2 buah

Metode yang dilakukan dalam pembuatan pupuk organik cair:

  1. Semua bahan-bahan hijauan dicincang, bertujuan untuk mempercepat proses fermentasi
  2. Semua bahan organik (15 kg hijauan dan 10 kg kotoran ayam) dimasukkan ke dalam ember dengan komposisi 2bagian bahan organik berbanding 1 bagian air
  3. Diaduk-aduk hingga merata
  4. 50 ml bioaktivator EM4 dan 100 g gula merah dilarutkan dalam 5 liter air, aduk hingga merata
  5. Larutan bioktivator ditambahkan ke dalam ember yang berisi bahan baku pupuk
  6. Kemudian ember ditutup dengan rapat (tidak boleh ada celah) setiap dua hari sekali dibuka dan diaduk untuk mengeluarkan gas selama proses fermentasi agar suhu terjaga konstan (cara ideal yaitu menggunakan selang aerator). Ditutup kembali hingga rapat
  7. Setelah 14 hari larutan pupuknya disaring. Bagian cair dapat digunakan untuk POC dan bagian yang kasar dapat digunakan sebagai pupuk padat
  8. Pupuk organik cair dapat diaplikasikan pada tanaman yang anda miliki.

Berdasarkan cara pembuatan POC sendiri tergolong mudah dan terdapat dua jenis POC, yaitu dengan metode pelarutan dan metode fermentasi. Dari proses pembuatan POC tersebut menggunakan metode fermentasi. Keuntungan dalam pembuatan POC dengan fermentasi ini tidak mengandung ampas dan dapat disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama, jadi pupuk organik cair ini selain bermanfaat bagi tanaman juga ramah dikantong bagi petani atau masyarakat umum yang ingin membuat pupuk cair sendiri dan  ramah bagi lingkungan. (Penulis adalah mahasiswi Fakultas Pertanian Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Bengkulu)

Baca Juga
Tinggalkan komen