Lika-liku Fotografer Wisata di Bengkulu, Masih Laku?

Fotografer Wisata

Objek wisata merupakan suatu tempat bagi kalangan pedagang dalam mencari pemasukan, karena selalu ramai oleh pengunjung baik dalam maupun luar kota.

Tidak hanya bagi pedagang, objek wisata juga merupakan lapak untuk para fotografer dalam mengabadikan setiap momen para pengunjung.

Buston adalah salah satu fotografer yang selalu ada disetiap tempat wisata di Bengkulu, sejak tahun 1982. Ia memulai usaha tersebut dengan bermodalkan uang Rp3 juta saja dan kala itu hanya mendapatkan kamera jenis analog.

Selama menjadi seorang fotorgafer tentu banyak suka duka dilewati, namun baginya profesi yang digelutinya ini justru selalu dipenuhi suka.

“Banyak sukanya ya yang dirasakan dari pada duka. Kita senanglah memang foto, juga menghasilkan uang. Kerja juga tidak terlalu beban,” kata Buston pada Bengkulunews.co.id Senin (26/12/22) siang.

Jika bicara duka, Buston mengaku pasti hal tersebut tidak pernah hilang. Namun hal-hal tersebut masih bisa Ia atasi, seperti jika ada kendala pada printer saat ingin mencetak foto dan masalah lainnya.

Beruntung Ia selalu dipertemukan dengan pengunjung yang sabar dan mau mengerti, dalam menggunakan jasanya tersebut.

Tidak hanya itu kala covid-19 melanda, dirinya hampir gulung tikar karena situasi yang tidak memungkinkan.

“Gimana ya, kitakan profesinya tukang foto, kalau tidak ada orang apa yang mau difoto. Mau tidak mau harus di rumah saja, hampir setahun tidak ada pemasukan,” keluhnya.

Fotografer Wisata, Buston. Foto, Cindy/BN

Meski begitu dirinya tidak patah semangat, Ia terus menggeluti profesinya ini. Pernah juga Buston dipercaya sebagai Ketua Persatuan Foto Amatir Pantai Panjang (PFAPP) Bengkulu sejak awal karirnya.

Buston juga seringkali mengadakan momen dan lomba untuk para fotografer, seperti lomba 17 agustus, penghijauan dan lainnya.

“Seperti penanam pohon, itu kami langsung ke instansi terkait. Mereka kasih bibit dan alat, organisasi yang bekerja,” sambung Buston.

Sayangnya sejak banyak anggota baru yang bergabung, Ia merasa bahwa mereka mulai susah untuk diajak bekerja sama dan Buston memutuskan untuk mundur dari komunitas sebagai ketua.

Walaupun begitu dirinya masih aktif menjalani profesi sebagai fotografer, penghasilannya pun bisa dibilang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pada hari biasa dirinya bisa digaji Rp400 hingga Rp500 ribu perkelompok atau sekitar Rp2 juta per harinya, sedangkan untuk hari besar seperi tahun baru Buston bisa mendapatkan Rp6 sampai Rp7 juta dalam waktu dua hari.

Buston berharap kedepannya pemerintah dapat memperhatikan para fotografer, tidak banyak yang diminta hanya sebuah tempat untuk mereka dapat mengadukan masalah saja.

“Kita berharapnya pemerintah bisa membangun tempat sekretariat, jadi jika ada pengunjung yang memiliki kendala dengan fotografer bisa mengadu disana,” demikian Buston.

Penulis : Cindy

Baca Juga
Tinggalkan komen