Gambar BengkuluNews

Kenapa Logat Masih Jadi Bahan Ejekan? Psikolinguistik Mengungkap Alasannya

Kenapa Logat Masih Jadi Bahan Ejekan? Psikolinguistik Mengungkap Alasannya

Ilustrasi. AI Generated

Oleh : Oriza sativa

Mungkin ini adalah sesuatu yang hampir semua perantau alami, baru mengucapkan satu atau dua kalimat, langsung ada komentar “Medok banget, ya?” atau “Wow, logat mana ini?” Terkadang jadi lucu, tapi tak jarang juga terasa menghakimi. Seolah-olah gaya bicara kita menentukan seberapa pantas kita berada di suatu lingkungan. Padahal, kita tidak pernah memilih logat yang kita pakai. Logat terjadi secara alami, melekat dalam diri, menjadi bawaan, dan bagian dari identitas diri. Meskipun begitu, logat masih sering jadi bahan becandaan. Mengapa ini terjadi?

Kenapa Otak Kita “Kaget” Dengar Logat Baru

Ternyata fenomena ini ada hubungannya dengan cara otak kita bekerja. Mengutip dari jurnal Frontiers in Psychology, Penelitian berjudul Linguistic Processing of Accented Speech Across the Lifespan menemukan bahwa otak manusia lebih cepat memproses logat yang familiar daripada logat yang baru. Anak-anak bisa belajar mengenali logat yang berbeda atau tidak familiar, tetapi tetap lebih cepat mengenali kata-kata dengan logat yang sering mereka dengar.

Orang dewasa juga mengalami hal yang sama, otak kita membutuhkan waktu yang lebih lama untuk beradaptasi saat pertama kali mendengar logat baru. Begitu sudah terbiasa, pemahaman akan meningkat. Ini berarti bahwa merasa “kaget” atau “bingung” saat mendengar logat baru adalah hal yang wajar, ini sebenarnya bukan salah si penutur logat, melainkan karena otak kita sedang beradaptasi.

Ketika Proses Otak Berubah Jadi Bully-an

Masalah muncul ketika rasa kaget, tidak familiar, dan bingung itu berubah menjadi stigma. Mengutip dari Journal of Linguistic Geography, penelitian berjudul Social Factors in Accent Recognition: A Large-Scale in Perceptual Dialectology mengungkapkan bahwa pendengar biasanya paling baik dalam memahami logat daerahnya sendiri. Semakin mirip logat penutur dan pendengar, maka semakin mudah untuk dimengerti. Sebaliknya, semakin jauh kemiripan, jarak geografis dan sosialnya, maka akan semakin sulit juga untuk membedakan logatnya.

Akibatnya, kita sering menganggap logat kita sebagai “standar”, dan logat orang lain dianggap “aneh”, hal seperti itulah yang menjadikan logat sebagai bahan olokan. Tanpa disengaja, kita menciptakan “kasta bahasa” yang tidak adil, di mana logat tertentu dianggap lebih “standar” dan “modern”, sementara logat yang lain dianggap “aneh”. Padahal, secara kebahasaan, tidak ada logat yang lebih superior dari logat lainnya.

Dampak Psikologis yang Nggak Main-Main

Mengutip dari Repository Universitas Airlangga, Penelitian fenomenologis berjudul Pemaknaan Stigmatisasi Dialek Regional: Studi Fenomenologis Dari Perspektif Penutur tentang stigmatisasi logat daerah di Indonesia juga mengungkapkan fenomena serupa. Tiga penutur logat Dawan, Makassar, dan Batak-Arekan mengakui bahwa logat mereka sering membuat mereka merasa berbeda.

Beberapa dari mereka memilih untuk menertawakan diri sendiri agar tidak dianggap tersinggung, sementara yang lainnya berusaha mengurangi logat mereka atau meniru logat Jakarta. Ada juga yang merasa harus “menyembunyikan” identitas daerahnya ketika berada di lingkungan baru, terutama ketika berada di kota besar. Menariknya, meskipun menyadari stigma tersebut menyakitkan, orang-orang masih menganggapnya “wajar”. Ini menunjukkan bahwa stigma logat sudah mengakar yang menjadikan seseorang tidak percaya diri dengan identitasnya sendiri.

Pengalaman yang serupa juga saya alami sebagai orang Minang. Saat pertama kali kuliah di Jakarta, teman saya sering menertawakan saya ketika saya salah menyebutkan bunyi huruf ’E’. Bagi orang Minang, membedakan ’e’ seperti dalam kata ”enak” dan ’é’ dalam kata ”emak” itu bukan sesuatu yang mudah. Hal sederhana seperti ini dapat membuat kita menjadi minder untuk berbicara di depan banyak orang.

Dampak psikologisnya juga tidak kalah serius. Banyak perantau yang mengalami krisis identitas, merasa tidak percaya diri saat berbicara, bahkan ada yang memilih untuk diam daripada harus menghadapi komentar orang lain tentang logat mereka. Ini bukan sekadar masalah bahasa, tetapi masalah harga diri dan penerimaan sosial.

Media Sosial: Mengubah Narasi Tentang Logat

Media sosial menyajikan sudut pandang yang berbeda. Logat khas dari banyak konten kreator, seperti logat Makassar, Batak, Jawa, Timur, Minang, dan lainnya membuat mereka viral. Dilihat dari hal tersebut, penonton justru terlihat menikmati keaslian itu. Hal ini menjadikan orang-orang mulai menyadari bahwa logat bukanlah sebuah keanehan, melainkan warna budaya yang membuat seseorang menjadi unik.

Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube telah menjadi ruang virtual di mana logat daerah dianggap sebagai ciri khas. Konten kreator dengan logat kental justru memiliki karakter kuat yang membuat mereka mudah diingat dan disukai. Ini dapat menjadi bukti kalau anak muda sekarang sudah mulai membangun perspektif yang berbeda tentang logat dan bahasa di Indonesia, meskipun beberapa dari mereka masih sering menjadikan logat daerah sebagai bahan olokan.

Saatnya merayakan, Bukan Menertawakan

Hal ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada logat, melainkan pada cara kita memandang logat itu. Kita sering lupa bahwa setiap logat membawa sejarah seseorang, latar belakang budaya, kampung halaman, dan masa kecil. Menertawakan logat sama saja dengan menertawakan identitas seseorang. Logat adalah warisan budaya yang terus berkembang, dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah dengan ribuan variasi logat. Ini sebenarnya merupakan kekayaan yang tidak dimiliki oleh banyak negara. Alih-alih menjadikannya bahan olokan, kita seharusnya bangga bahwa dalam satu negara, kita bisa mendengar begitu banyak warna suara, ritme, dan intonasi yang berbeda.

Pertanyaannya sekarang, “Kenapa logat berbicara seseorang masih dijadikan bahan olokan, jika kita memang bangga dengan keberagaman Indonesia?”. Perubahan bisa dimulai dari hal sederhana, seperti berhenti memberi komentar merendahkan tentang logat seseorang dan mulai melihatnya sebagai bagian dari kekayaan budaya yang seharusnya dibanggakan. Selain itu, kita juga bisa mulai meningkatkan kesadaran akan menghargai perbedaan, dampak dari kata-kata yang kita ucapkan, serta mengajarkan generasi berikutnya bahwa logat adalah identitas, bukan aib.

Penulis adalah Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!