Gambar BengkuluNews

Manajemen Aksi: Strategi Mengelola Gerakan agar Efektif dan Berdampak

Alwin Feraro
Manajemen Aksi: Strategi Mengelola Gerakan agar Efektif dan Berdampak

Aksi teatrikal mahasiswa saat demonstrasi di depan Kantor Gubernur Bengkulu, Senin (26/05/2025)

Pemandangan aksi di jalan sekarang jauh berbeda dengan yang dulu. Ada divisi keamanan, koordinator lapangan, poster seragam, dan kadang konferensi pers sebelum massa turun. Banyak orang mengira ini hanya soal tren, padahal ada ilmunya.

Beberapa peneliti gerakan sosial sejak puluhan tahun lalu menunjukkan bahwa aksi massa yang efektif harus ditangani seperti organisasi, bukan sekadar kumpulan orang yang kecewa pada negara dan pemerintah.

Dua akademisi, John D. McCarthy dan Mayer N. Zald, menegaskan bahwa protes yang berhasil selalu punya “dapur” yang mengelola hal-hal tak terlihat, seperti uang, jaringan, logistik, media, dan orang-orang berpengalaman di belakang layar. Itulah sebabnya aksi yang terlihat rapi biasanya punya tim yang mengurus konsumsi, dokumentasi, hingga advokasi hukum.

McCarthy dan Zald memperkenalkan Teori Mobilisasi Sumber Daya pada tahun 1977 melalui publikasi “Resource Mobilization and Social Movements”. Aksi harus diawali pembentukan organisasi inti, pembagian divisi (logistik, media, advokasi, keamanan), serta perencanaan pendanaan dan jaringan.

Menurut keduanya gerakan sosial berhasil bukan hanya karena ada kemarahan publik, tetapi karena kemampuan mengorganisasi dan memobilisasi sumber daya.

Selain soal organisasi, ada faktor lain yang menentukan. Peneliti Doug McAdam menemukan bahwa aksi kecil bisa berdampak besar jika dilakukan pada saat pemerintah dalam posisi lemah—misalnya menjelang pemilu, ketika ada konflik di kalangan elite, atau ketika sebuah kebijakan sedang dikritik luas. Aksi besar tapi salah momentum sering hanya menjadi keramaian semata.

Doug McAdam melalui buku “Political Process and the Development of Black Insurgency (1930–1970)” (1982) menekankan pentingnya struktur peluang politik (political opportunity). Prinsipnya adalah, waktu aksi harus dihitung secara strategis, bukan emosional. Momentum lebih menentukan daripada jumlah massa.

Peneliti lain, Charles Tilly, menyoroti hal yang sering luput, seperti aksi yang dilakukan harus terlihat baik. Alasannya, publik cenderung mendukung aksi yang disiplin, damai, punya simbol persatuan, dan tidak merusak fasilitas. Ketika massa tampak rapi, bertanggung jawab, dan tidak anarkis, opini publik biasanya memihak.

Tilly melalui karyanya “Social Movements, 1768–2004” menjelaskan bahwa aksi publik memiliki repertoar—yaitu pilihan bentuk aksi yang tersedia dan sah dalam suatu masyarakat (pawai, kampanye digital, boikot, petisi, mogok, dsb). Pengelola aksi harus mengatur simbol persatuan, disiplin massa, dan tindakan yang bermartabat agar masyarakat memberikan legitimasi.

Ia juga memperkenalkan parameter WUNC (Worthiness, Unity, Numbers, Commitment) untuk mengukur kredibilitas aksi:

  1. Worthiness – Aksi terlihat bermartabat, beretika, layak didukung publik
  2. Unity – Ada simbol persatuan (seragam, slogan bersama)
  3. Numbers – Jumlah massa cukup signifikan
  4. Commitment – Massa disiplin, bertahan, konsisten.

Ada pula seperti yang dikemukan David Snow dan Robert Benford melalui artikel klasik “Frame Alignment Processes, Micromobilization, and Movement Participation” (1986). Mereka  menemukan bahwa aksi mudah gagal kalau narasinya berantakan. Karena itu gerakan modern biasanya menyatukan satu masalah, satu solusi, dan satu ajakan bertindak dalam semua materi: dari poster, orasi hingga tagar. Konsistensi ini membuat publik paham apa tujuan aksi, bukan hanya ikut kerumunan.

Kerangka Framing:

  1. Diagnostic Frame → Mengidentifikasi masalah.
  2. Prognostic Frame → Menawarkan solusi.
  3. Motivational Frame → Memberikan alasan mengapa publik harus bertindak.

Di luar semua strategi itu, manajemen risiko juga semakin penting. Banyak gerakan mulai menyiapkan pengacara, tim dokumentasi, dan pelatihan disiplin massa untuk mencegah kriminalisasi dan framing negatif. Tujuannya sederhana, tetap efektif, tetap aman, dan tetap bermartabat.

Pada akhirnya, aksi massa bukan lagi dinilai dari sekeras apa teriakan di jalan, tetapi dari seberapa terukur langkahnya. Semakin banyak gerakan memilih tampil rapi, terencana, dan fokus pada tujuan, bukan sekadar turun untuk marah. Aksi kini bergerak dari spontan, menjadi strategi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!