Berita bengkulu
Berita Nasional dan Lokal #KitoNian

LKSLU Payung Besurek, Tempat Bernaung Para Lansia di Kota Bengkulu

LKSLU Payung Besurek sedang bersama para lansia.

BENGKULU – Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia (LKSLU) Payung Besurek Bengkulu, merupakan lembaga layanan sosial swadaya masyarakat yang dibentuk pada tanggal 15 Mei 2013 lalu.

Ketua LKS-LU Payung Besurek, Hilda Sriwanty menjelaskan bahwa awal terbentuknya lembaga ini berkaitan dengan isu lansia yang kurang diperhatikan oleh banyak pihak. Belum lagi pola fikir masyarakat bahwa para lansia, hanya membutuhkan istirahat serta pemenuhan pangan saja.

“Padahal mereka ini sama seperti layaknya individu yang lain, masih harus memenuhi kebutuhan fisik, psikologis, sosial dan spiritualnya. Sehingga ini menjadi landasan kami untuk mendirikan lembaga ini,” kata Hilda pada Bengkulunews.co.id Jumat (27/01/22) siang.

Tentunya dalam membangun lembaga tersebut banyak suka duka yang dirasakan, terkhusus terhadap para lansia. Contohnya saja dalam melaksanakan kegiatan mereka pastinya memerlukan dana, sedangkan kebutuhan tersebut saat ini hanya berasal dari swadaya masyarakat. Sehingga tidak mudah bagi mereka untuk membangun dukungan banyak pihak.

“Tapi kita terus melakukan kerjasama dan komunikasi dengan layanan-layanan yang memang bersedia untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan lansia. Misalnya puskesmas, kemudian ada juga psikolog, tenaga kesehatan, tenaga terapis, mahasiswa, perguruan tinggi, juga dinas sosial. Sehingga ini juga yang membantu kami untuk melakukan layanan terhadap lansia,” ceritanya.

Duka lain yang dirasakan adalah ketika tidak semua keluarga memahami kebutuhan lansia, padahal ada kelompok-kelompok sosial yang mendukung kegiatan untuk mereka.

Jika hal tersebut tidak terpenuhi, maka akan mempengaruhi kondisi fisik dan peranan sosial mereka di masyarakat.

“Mereka akan merasa tidak dianggap, tidak dihargai, hingga kurang diperhatikan. Akhirnya secara psikologis mereka merasa tidak berharga dan nantinya ada penurunan fungsi sosial. Misalnya suka marah-marah, tidak mau berinteraksi dengan orang lain, menarik diri atau menderita penyakit menahun akibat psikologisnya,” jelas Hilda.

Kesulitan tersebut tidak berhenti sampai di sana saja, setiap tindakan yang dilakukan oleh lansia masih diputuskan oleh keluarga. Sehingga lansia dianggap tidak memiliki otoritas terhadap dirinya sendiri, ketika Ia bergantung secara ekonomi pada keluarga maka lansia tidak akan berdaya dan harus mengikuti setiap perkataan yang ditunjukkan padanya. Hal tersebut tentunya akan memperburuk fungsi sosial lansia dalam masyarakat.

Walaupun begitu Hilda tidak berputus asa untuk mendukung dan memperjuangkan hak para lansia yang ada di Bengkulu. Hingga saat ini sudah ada sekitar 120 lansia yang tergabung dalam LKSLU, 20 orang sudah meninggal dunia dan tersisa 100 orang lagi.

Untuk mempermudah pelayanan ini, Ia beserta rekan lain memulai membuat teknis strategi dalam membentuk kelompok lansia di titik-titik keberadaan lansia yang terbanyak. Pendirian kelompok ini juga atas kesepakatan para lansia, untuk melakukan layanan sebaya dan merupakan swadaya yang didukung oleh dana mandiri lembaga. Sehingga dalam pelaksanaan kegiatannya melibatkan partisipasi aktif lansia.

Saat ini ada dua kelompok yang sudah dibagi. Pertama ada kelompok swadaya di nusa Indah dengan jumlah 15 peserta lansia, setiap Jumat pukul 09.00 pagi hingga 12.00 siang. Kedua kelompok swadaya di Merpati 17 dengan anggota 10 orang lansia, dilakukan dua minggu sekali setiap Senin di jam yang sama.

Kegiatannya meliputi kelas mengaji, bimbingan rohani, pemeriksaan kesehatan dan juga fisik. Ia berharap lembaga lansia ini dapat diperhatikan untuk membantu mereka dalam meningkatkan rasa kepedulian sosial.

“Alhamdullilah ini juga memberikan rumah psikologi sosial untuk lansia, supaya mereka lebih bersemangat, merasa dirinya berharga sama dengan orang lain dan diharapkan mampu berperan aktif dalam masyarakat, ” demikian Hilda.

Baca Juga
Tinggalkan komen