Gambar BengkuluNews

Harga Beras Naik, Mahasiswa Penerima KIP di Bengkulu Rasakan Dampaknya

Harga Beras Naik, Mahasiswa Penerima KIP di Bengkulu Rasakan Dampaknya

Pedagang di Pasar Minggu. Susi Yuliarti mengaku kenaikan harga dipicu oleh kenaikan BBM dan musim kemarau. Foto, Hatta/BN

Oleh : Muhammad Hatta

Harga beras di Pasar Minggu, Kota Bengkulu, terus naik sejak akhir Juni 2026. Kenaikan itu dirasakan pedagang maupun konsumen, termasuk Serly Oktaviani, mahasiswa penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP), yang mengaku semakin kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Serly mengatakan kenaikan harga beras membuat pengeluaran bulanannya semakin sempit. Dana KIP yang ia terima sebesar Rp5.800.000 per semester, jika dirata-ratakan, setara Rp966.667 per bulan. Ditambah kiriman orang tua Rp200.000 per bulan, total pemasukannya sekitar Rp1.166.667 per bulan. Setelah dipotong biaya kos Rp650.000, sisa dana untuk makan, transportasi, dan keperluan kuliah hanya sekitar Rp516.667 per bulan. Jumlah itu, menurutnya, semakin tidak mencukupi seiring naiknya harga beras.

“Untuk uang KIP, itu kan diterima setiap semester sekali, menurut saya kurang dari kebutuhan kuliah, apalagi kehidupan sehari-hari saya. Kehidupan, termasuk beras yang naik, itu berdampak, jadi uang KIP terasa kurang,” kata Serly.

Akibat keterbatasan dana tersebut, Serly mengaku terpaksa mengurangi jumlah pembelian beras dari biasanya. Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk mengatasi kenaikan harga bahan pokok, mengingat tidak semua masyarakat mampu menghadapinya.

“Harapan saya sendiri, semoga ke depannya pemerintah bisa mengatasi kenaikan harga bahan pokok di Indonesia. Kita tahu ada orang yang mampu dan ada yang tidak mampu, jadi harga bahan pokok di Indonesia harus tetap stabil,” kata Serly.

Kenaikan harga beras juga dirasakan pedagang di Pasar Minggu. Susi Yuliarti mencatat harga beras merek Lampung kemasan 50 kg naik dari Rp687.500 menjadi Rp730.000, atau naik 6,18 persen. Beras kemasan 20 kg merek Cumi-Cumi naik dari Rp300.000 menjadi Rp310.000 (naik 3,33 persen), sementara beras keras naik dari Rp308.000 menjadi Rp310.000 (naik 0,65 persen). Beras Padang per kg naik dari Rp16.000 menjadi Rp17.000 (naik 6,25 persen). Adapun beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dijual Rp12.000 per kg, masih di bawah harga eceran tertinggi (HET) pemerintah sebesar Rp13.100 per kg.

Susi mengatakan kenaikan harga dipicu oleh naiknya harga BBM dan berkurangnya pasokan akibat musim kemarau yang menekan hasil panen petani. Sejak harga naik, pembeli tetap datang, tetapi mengurangi jumlah pembelian, dari per karung menjadi per liter atau per kilogram.

“Kalau harga beras naik, tentu ibu juga naikkan harga penjualan, sebab modal ibu ikut bertambah,” kata Susi.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bengkulu, Desman Siboro, menyatakan kenaikan harga beras di Bengkulu dipengaruhi naiknya harga BBM dan berkurangnya pasokan di tengah tingginya permintaan konsumen.

“Memang yang memengaruhi sekarang adalah harga BBM yang sangat tinggi, ditambah pasokan yang kurang, permintaan konsumen yang tinggi, dan pasokan bahan baku yang sangat kurang, sehingga harga ikut terpengaruh,” kata Desman.

Ia menyebutkan Disperindag Provinsi Bengkulu terus berkoordinasi dengan Bulog, Bank Indonesia, dan instansi ketahanan pangan untuk mengendalikan inflasi, antara lain dengan mendorong ketersediaan stok beras SPHP serta memantau harga di pasar secara rutin. Terkait waktu stabilnya harga, Desman mengatakan pihaknya masih menunggu hasil panen petani lokal dari Curup dan Bengkulu Utara, serta pasokan dari luar daerah seperti Jawa, sembari terus mengedukasi pedagang dan petani agar harga jual tetap berada pada level yang wajar.

Penulis adalah mahasiswa Universitas Dehasen Bengkulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!