Gambar BengkuluNews

Anak Belum Banyak Bicara? Kenali Speech Delay dan Cara Mengatasinya

Anak Belum Banyak Bicara? Kenali Speech Delay dan Cara Mengatasinya

Ilustrasi. AI Generated

Oleh : Hanifah Anwar

“Umur sudah 3 tahun, tapi kok anak saya belum banyak bicara ya? Teman seusianya sudah bisa bercerita panjang lebar.”

Pertanyaan seperti ini sering terdengar di ruang tunggu posyandu, grup WhatsApp ibu-ibu, atau bahkan dalam hati orang tua yang mulai cemas. Ada yang menenangkan dengan bilang, “Ah, biasa kok. Nanti juga bisa sendiri.” Tapi ada juga yang membuat khawatir: “Jangan-jangan ada masalah?”

Sebagai orang tua, wajar merasa bingung. Kapan harus khawatir? Kapan harus santai saja? Mari kita bahas dengan santai tapi tetap berdasar.

Apa Sih Sebenarnya Speech Delay Itu?

Speech delay adalah kondisi ketika anak mengalami keterlambatan dalam kemampuan berbicara dibandingkan anak-anak seusianya. Ini bukan berarti anak “malas bicara” atau “tidak mau bicara”. Lebih tepatnya, mereka memang belum mampu memproses dan menghasilkan kata-kata secepat teman-teman sebayanya. (Paul dkk., 2018)

Bayangkan begini: otak anak seperti komputer yang sedang menginstal program bahasa. Pada beberapa anak, proses instalasi ini berjalan lebih lambat karena berbagai alasan. Bukan rusak, hanya butuh waktu dan bantuan ekstra.

Penting untuk membedakan: anak yang speech delay berbeda dengan anak yang pendiam atau pemalu. Anak pemalu sebenarnya bisa bicara, tapi memilih diam di situasi tertentu. Anak dengan speech delay ingin bicara tapi kesulitan mengungkapkan kata-kata.

Kenapa Bisa Terjadi? Penyebab yang Sering Ditemui

Speech delay bisa disebabkan banyak hal. Berikut beberapa yang paling umum:

Kurang stimulasi verbal. Ini yang paling sering terjadi di era digital. Anak lebih banyak ditemani gadget daripada percakapan nyata. Layar memang bisa menghibur, tapi tidak bisa mengajarkan cara berbicara seperti interaksi dua arah dengan orang tua. (Gilkerson dkk., 2017)

Gangguan pendengaran ringan. Kadang tidak disadari, telinga anak yang sering infeksi bisa membuat kemampuan menangkap suara menurun. Kalau anak tidak mendengar dengan jelas, bagaimana dia bisa meniru kata-kata dengan benar?

Faktor lingkungan. Ada rumah yang sepi percakapan. Orang tua sibuk, kakak-kakak sudah sekolah, jadi anak tidak punya “teman bicara” yang cukup. Padahal, anak belajar bicara dari mendengar orang lain berbicara.

Bilingual confusion. Anak yang terpapar dua bahasa sekaligus (misalnya bahasa Indonesia dan bahasa daerah) kadang butuh waktu lebih lama untuk memilah-milah. Tapi tenang, ini biasanya hanya fase sementara. (Hoff dkk., 2012)

Temperamen anak. Beberapa anak memang lahir dengan kepribadian yang lebih tenang dan observatif. Mereka lebih suka mendengarkan dulu sebelum mencoba bicara.

Dalam beberapa kasus, speech delay juga bisa menjadi tanda kondisi yang lebih serius seperti gangguan spektrum autisme atau gangguan perkembangan neurologis lainnya. Karena itu, memantau tanda-tanda dengan teliti sangat penting. (Rescorla, 2011)

Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai

Tidak semua anak yang “belum banyak bicara” mengalami speech delay. Tapi ada beberapa patokan yang bisa jadi panduan:

Usia 12 bulan:

  • Belum mengucapkan kata bermakna seperti “ma-ma”, “pa-pa”, atau “dadah”
  • Tidak merespons ketika namanya dipanggil
  • Tidak menunjuk atau menggunakan gerakan tubuh untuk berkomunikasi

Usia 18 bulan:

  • Kosakata kurang dari 10 kata
  • Tidak meniru kata-kata baru
  • Tidak mengikuti instruksi sederhana seperti “ambil bola”

Usia 2 tahun:

  • Kosakata kurang dari 50 kata
  • Belum bisa menggabungkan dua kata (misalnya “mau minum”)
  • Ucapannya sangat sulit dipahami bahkan oleh orang tua

Usia 3 tahun:

  • Bicaranya sulit dipahami orang lain di luar keluarga
  • Tidak bisa membuat kalimat sederhana
  • Tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana (American Speech-Language-Hearing Association (ASHA). (2023)

Sekali lagi, ini hanya patokan umum. Setiap anak unik. Tapi kalau ada beberapa tanda di atas yang muncul, ada baiknya mulai mencari informasi lebih lanjut.

Apa Dampaknya Kalau Dibiarkan?

Bukan bermaksud menakut-nakuti, tapi speech delay yang tidak ditangani memang bisa berdampak:

Frustrasi dan tantrum. Bayangkan tidak bisa menyampaikan apa yang kamu inginkan. Pasti kesal, kan? Anak yang belum bisa bicara sering mengekspresikan frustrasinya lewat menangis, marah, atau bahkan memukul.

Kesulitan bersosialisasi. Saat teman-teman sebaya sudah asyik ngobrol dan bermain pura-pura, anak dengan speech delay bisa merasa tertinggal. Ini bisa memengaruhi kepercayaan dirinya.

Masalah di sekolah. Kemampuan bahasa sangat berkaitan dengan kemampuan akademik. Anak yang terlambat bicara berisiko mengalami kesulitan membaca, menulis, dan memahami pelajaran nanti. (Rescorla, L. 2009)

Tapi kabar baiknya: intervensi dini sangat efektif! Semakin cepat ditangani, semakin besar kemungkinan anak untuk mengejar ketertinggalannya.

Tips Praktis untuk Orang Tua

Tidak perlu menunggu sampai ke terapis untuk mulai membantu anak. Ada banyak hal sederhana yang bisa dilakukan di rumah:

  1. Ajak bicara terus-menerus. Saat mandi, ceritakan apa yang sedang dilakukan: “Sekarang kita pakai sabun ya. Busanya banyak!” Saat masak, ajak anak ke dapur: “Ibu lagi motong wortel nih. Warnanya oranye.” Narasi aktivitas sehari-hari adalah stimulasi bahasa yang luar biasa.
  2. Kurangi screen time. Gadget bukan pengganti interaksi manusia. Batasi maksimal 1 jam per hari untuk anak di bawah 5 tahun, dan pastikan tetap ada pendampingan saat menonton. (American Academy of Pediatrics. (2016)
  3. Bacakan buku setiap hari. Tidak perlu lama, 10-15 menit sudah cukup. Pilih buku bergambar dengan kata-kata sederhana. Tunjuk gambar sambil menyebutkan namanya. Biarkan anak membalik halaman sendiri.
  4. Tiru motherese. Ini adalah gaya bicara yang secara natural digunakan orang tua saat berbicara dengan bayi: tempo lebih lambat, intonasi naik-turun, dan artikulasi jelas. Penelitian menunjukkan motherese sangat efektif dalam pembelajaran bahasa. (Golinkoff dkk., 2015)
  5. Ajukan pertanyaan, bukan hanya perintah. Daripada bilang “Minum susunya!”, coba tanya “Kamu mau minum apa?” Beri anak kesempatan untuk merespons, meskipun jawabannya masih terbatas.
  6. Perluas kata-kata anak. Kalau anak bilang “bola”, kamu bisa merespons “Iya, bola merah. Bolanya besar ya!” Ini mengajarkan anak untuk membuat kalimat lebih lengkap.
  7. Bermain bersama. Main peran, masak-masakan, atau bermain boneka sangat bagus untuk melatih kemampuan bahasa. Saat bermain, anak belajar menggunakan bahasa dalam konteks yang menyenangkan.
  8. Jangan terlalu cepat memenuhi keinginan anak. Kalau anak hanya menunjuk kulkas, jangan langsung buka. Tanya dulu: “Mau apa? Mau minum?” Dorong anak untuk mencoba mengucapkan kata, meskipun belum sempurna.

Kapan Harus ke Ahli?

Ini pertanyaan yang sering membuat orang tua ragu. Takut dibilang terlalu panik, tapi juga takut terlambat.

Prinsipnya sederhana: kalau orang tua sudah merasa “ada yang janggal”, percayalah pada insting itu. Lebih baik salah deteksi daripada terlambat. Intervensi dini adalah kunci.

Konsultasikan ke dokter anak, dokter tumbuh kembang, atau terapis wicara jika:

  • Anak tidak mencapai milestone bahasa sesuai usianya
  • Ada kemunduran kemampuan (anak yang tadinya bisa bicara malah berhenti)
  • Anak kesulitan memahami instruksi sederhana
  • Bicara anak sangat tidak jelas di usia 3 tahun ke atas
  • Ada tanda-tanda lain seperti tidak ada kontak mata atau perilaku repetitif

Jangan takut atau malu. Mencari bantuan profesional adalah tanda orang tua yang peduli dan bertanggung jawab.

Setiap Anak Punya Waktunya

Einstein konon terlambat bicara sampai usia 4 tahun. Tapi tidak semua anak yang speech delay akan jadi Einstein dan itu tidak masalah.

Yang penting adalah orang tua hadir, peduli, dan aktif mendukung. Setiap kata yang kita ucapkan, setiap buku yang kita bacakan, setiap pertanyaan yang kita ajukan adalah investasi untuk masa depan komunikasi anak.

Speech delay bukan vonis. Dengan stimulasi yang tepat, dukungan profesional jika diperlukan, dan cinta tanpa syarat, sebagian besar anak bisa mengejar ketertinggalannya.

Jadi, untuk para orang tua yang sedang khawatir: napas dulu. Kamu tidak sendirian. Dan yang terpenting, kamu sudah melakukan langkah pertama dengan mencari tahu. Itu sudah luar biasa.

  • Penulis adalah Mahasiswi dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!