Wow! Batik Besurek Khas Bengkulu Mendunia

Penulis: Cindy

BENGKULU – Siapa yang tidak kenal dengan Batik Basurek, salah satu kerajinan khas Bengkulu yang sudah mendunia. Lewat peranan UMKM batik yang ada di Bengkulu, semakin membuat harum nama Provinsi dan terkenalnya kain Batik Basurek.

Pemilik UMKM batik basurek, Atiqah Sumarwani mengemukakan bahwa usahanya ini sudah berdiri sejak tahun 1999 oleh sang ibu dan diteruskan oleh dirinya pada tahun 2008 hingga kini.

Modal awal yang dikeluarkan saat itu sebesar Rp50 juta dan kini mulai berkembang melalui bantuan dari Bank Indonesia.

“Untuk UMKM terpilih, akhirnya kita makin berkembang usahanya,” kata Atiqah pada Bengkulunews.co.id Selasa (15/11/22) siang.

Dalam membangun usahanya ini banyak hal yang terjadi, turun naik dalam bisnis sudah menjadi hal biasa. Terlebih saat pandemi menyerang seluruh perekonomian dunia selama dua tahun, Ia tidak dapat menjual produknya.

“Kita benar-benar kerja waktu itu, tapi untung tidak ada. Saya si mikirnya yang penting kariyawan bisa kerja, karenakan kalau mereka istirahat mau makan apa, sedangkan merek kerja untuk cari makan,” tegasnya.

Dari kegigihannya itu Ia mencoba peruntungan dengan membuat masker yang kala itu sedang langka, hingga pemerintah mengorder sebanyak 10 ribu buah masker miliknya. Sehingga usahanya tersebut tetap berjalan walau pandemi masih menghantui, meskipun begitu produksinya ini sudah menginjak berbagai negara lewat pameran yang dilakukan oleh pihak pemerintah.

Atiqah mengatakan jika bukan karena dukungan pemerintah, mungkin usahanya ini hanya akan digelar di provinsi saja. Ia menginjak berbagai negara lewat pameran yang dilakukan sejak 2012, diantaranya Paris, Korea Selatan, India dan Arab Saudi.

“Rencana kita akan ke luar negeri kembali di bulan ini. Kita lakukan pameran disana untuk mempromosikan bahwa indonesia itu memiliki motif batik basurek dari Bengkulu,” tutur Atiqah.

Selain kain batik basurek Ia juga menjual berbagai barang seperti mukenah batik, selendang, kemeja laki-laki, pernak Pernik seperti topi dan masih banyak lagi.

Untuk produksi sendiri Atiqah batik dapat membuat sekitar 200 potong batik dari bahan katun, untuk blush sebanyak 20 potong dan 30 buah kemeja dalam kurun waktu seminggu sekali.

“Kita hitung perminggu ya, karena sistem borongan pada saat pewarnaan. Kalau satu-satu nanti rugi di obat pewarnanya,” tukas pemiliki Atik Batik tersebut.

Motif yang digunakan dalam batik basurek masih terpaku pada kaligrafi arab dan bunga rafflesia, selebihnya ditambahkan motif berupa bunga kibut, alat musik doll dan lainnya.

Ada juga peci adri bahan lantung yang proses pembuatannya cukup memakan waktu, dari perebusan, pengeringan dan penghalusan. Harga peci tersebut berkisar Rp100 ribu dengan kombinasi batik, sedangkan untuk harga barang lain beraneka ragam mulai dari Rp25 ribu hingga Rp10 juta.

Biasanya harga batik yang menginjak puluhan juta tersebut, dibuat menjadi baju untuk pasangan berbahan sutra TBM dengan teknik batik tulis. Sejak dirintis oleh sang Ibu, usaha ini sudah didukung oleh pemerintah terutama Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Bengkulu. Bentuk bantuan tersebut berupa pelatihan batik, juga belajar teknik border.

Lewat dukungan tersebut Atiqah mengucapkan terimakasih, selain itu batik basurek juga dapat terkenal dikalangan dunia. Ia berharap pemerintah dapat membuat acara kedinasan nasional, agar banyak orang yang berkunjung ke Provinsi  Bengkulu.

“Kita juga benar-benar bertrimakasih, karena sudah disupport dan diperhatikan.  Akhirnya Bengkulu semakin dikenal dikalangan dunia, bukan sekedar provinsi. Kalau saya perhatikan ketika pameran keluar kota, orng banyak yang belum tau dimana Bengkulu. Harapan saya semoga  pemerintah selalu  mengadakan acara kedinasan  atau event nasional, Karena batik inikan  cendra mata. Semakin orang berkunjung di provinsi kita, maka banyak juga yang berbelanja,” demikian Atiqah.

Baca Juga
Tinggalkan komen