Berita bengkulu
Berita Nasional dan Lokal #KitoNian

Sosok Sapardi Djoko Damono yang Tampil dalam Google Doodle

Google Doodle hari ini menampilkan sosok Sapardi Djoko Damono dalam rangka memperingati hari ulang tahunnya ke 83 tahun.

Supardi Djoko Damono’s dikenal sebagai panyair yang merevolusi puisi liris di Indonesia, Ia lahir di Solo, Jawa Tengah pada tahun 1940.

Ia merupakan sosok yang selalu menghabiskan waktu dengan membaca buku dan menulis puisi saat bersekolah di Surakarta. Sarjana yang mengambil konsentrasi Baha Inggri di Universitas Gajah Mada ini melanjutkan mendalami sastra Indonesia di sekolah pascasarjana. Kemudian saat bekerja menjadi seorang penyiar radio dan asisten teater, Damono mulai mengaggap puisinya lebih serius.

Damono mulai merilis koleksi puisi pertamanya yang berjudul ‘dukaMu abadi’ pada tahun 1969. Ia berfokus pada cermin kondisi manusia, berbeda dengan kebanyakan penyair yang lebih mendalami refleksi dan ide masyarakat.

Bukunya yang sukses tersebut membawa Ia sebagai professor sastra di Universitas Indonesia. Damono menulis tiga koleksi puisi, dengan gaya lugas dan introspektif sebelum dirinya menerima Penghargaan Menulis Asia Tenggara yang disponsori ASEAN 1986.

Kemudian Ia mendirikan Asosiasi Cendikiawan Sastra Indonesia untuk memperomosikan bentuk seni di seluruh negeri. Damono menjabat sebagai ketua selama tiga periode berturu-turut.

Tidak hanya itu Ia juga menerjemahkan karya sastra dari seluruh dunia ke dalam Bahasa Indonesia, salah satu terjemahannya yang paling terkenal adalah The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway pada tahun 1994.

Damono kembali menerbitkan karyanya berjudul Hujan Bulan Juni, yakni kumpulan beberapa puisi terbesarnya. Karya tersebut  menginspirasi beberapa musisi untuk membuat komposisi dengan tema serupa. Damono juga terpilih sebagai dekan fakultas di Universitas Indonesia dan mengadakan recital puisi dalam rangka merayakan karya hidupnya pada tahun 2010.

Ia juga mendapatkan penghargaan bergengsi termasuk Achmad Bakrie Awardfor Literature tahun 2003 dan Akademi Jakarta Award tahun 2012. Hingga saat ini karyanya masih dibaca di seluruh dunia, berfungsi sebagai odeuntuk generasi penulis berikutnya.

Berikut salah satu karya dari Sapardi Djoko Damomo’s (1989)

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

 

Baca Juga
Tinggalkan komen