
Penemuan tiga tengkorak dalam tempayan di Durian Depun, Kepahiang
Warga Kelurahan Durian Depun, Kecamatan Merigi, digegerkan oleh penemuan tiga tengkorak manusia terpendam dalam tempayan kuno saat menggali tanah pekarangan pada 9 Desember 2025. Ketiga tengkorak tersebut kemudian dilaporkan kepada pihak kepolisian dan dibawa ke RSUD Rejang Lebong untuk diperiksa. Dua dari tengkorak itu diperkirakan milik seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berusia sekitar 30–40 tahun.
Temuan ini dikonfirmasi sebagai peninggalan manusia prasejarah dari Zaman Megalitikum yang berusia ratusan tahun sebelum Masehi. Peneliti dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII (Lampung-Bengkulu) menyebut bahwa penempatan tengkorak dalam tempayan kemungkinan merupakan bagian dari praktik penguburan sekunder — yakni jenazah dibiarkan membusuk terlebih dahulu, kemudian tulang belulangnya dimasukkan ke guci besar sebagai tradisi pemakaman.
Temuan tengkorak di Kepahiang bukan kejadian tunggal di Bengkulu. Bukti megalitik berupa dolmen telah didokumentasikan di wilayah lain khususnya di Kecamatan Curup, Kabupaten Rejang Lebong. Penelitian menunjukkan bahwa di Curup terdapat beberapa struktur batu besar seperti Batu Lebar, Batu Anggung, Batu Panco dan Batu Dewa yang dianggap sebagai situs megalitik dari masa prasejarah.
Struktur tersebut sering dipahami sebagai dolmen bangunan batu besar yang kemungkinan digunakan untuk persembahan atau tempat ritual kepada leluhur. Situs-situs ini sering dikunjungi dan masih dipelihara oleh masyarakat lokal sebagai tempat yang dianggap sakral.
Peneliti lokal mengidentifikasi situs dolmen ini sebagai bagian dari tradisi megalitik yang lebih luas di Bengkulu, sekaligus sebagai bukti keberadaan komunitas manusia yang memiliki praktik ritual dan spiritual yang terstruktur jauh sebelum era sejarah tertulis.
Beberapa temuan penting antara lain:
1. Dolmen (Meja Batu)
Dolmen merupakan temuan paling dominan, terutama di Curup dan sekitarnya. Struktur ini berupa batu besar datar yang ditopang batu lain di bawahnya.
Fungsi dolmen secara umum di Nusantara dikaitkan dengan tempat ritual, sarana persembahan, atau penanda kubur tokoh penting. Nama lokal yang tercatat antara lain Batu Lebar, Batu Anggung, Batu Dewa, dan Batu Panco.
2. Menhir (Batu Tegak)
Beberapa situs prasejarah di Kabupaten Kepahiang telah ditetapkan sebagai cagar budaya, termasuk menhir yang diduga berasal dari Zaman Megalitikum. Dua menhir yang sudah tercatat berupa Menhir Keris Keban Agung dan Menhir Tetralith Batu Belarik. Keduanya terletak di Kecamatan Bermani Ilir dan menunjukkan bahwa tradisi batu berdiri juga hadir di Kepahiang sebelum Masehi.
Dalam konteks megalitikum Indonesia, menhir sering berfungsi sebagai simbol penghormatan leluhur, penanda wilayah komunitas, atau elemen ritual kepercayaan animisme-dinamisme.
3. Batu Bergores dan Batu Lumpang
Beberapa situs mencatat keberadaan batu dengan cekungan atau goresan, yang umumnya ditafsirkan sebagai alat upacara, sarana aktivitas domestik ritual, atau simbol kosmologis. Ada juga artefak batu besar lainnya tersebar di berbagai kabupaten termasuk Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan, Rejang, dan Lebong. Hal ini menunjukkan bahwa praktik budaya megalitik lebih luas daripada sekadar satu atau dua situs saja.
4. Tradisi Lisan dan Situs Keramat
Sejumlah lokasi megalitik tetap dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Meski tidak selalu disertai artefak baru, kontinuitas makna sakral ini menjadi indikator penting keberlanjutan budaya megalitik.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!