Logo

Masih Layakkah Usaha Penjualan Tembikar Dipertahankan?

Barang kerajinan tembikar yang dijual Rapani. Foto, Cindy/BN

Barang kerajinan tembikar yang dijual Rapani. Foto, Cindy/BN

BENGKULU – Tembikar merupakan kerajinan berbahan tanah liat yang dapat dibentuk sesuai kreatifitas. Alexa Mandiri merupakan salah satu tempat kerajinan tembikar di Bengkulu yang berada di Jalan A.Yani Kelurahan Kebun Ros, Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu.

Pemilik Alexa Mandiri, Rapani Rifianto (65) mengatakan usahanya ini sudah berdiri sejak tahun 2000 silam. Berbagai bentuk kerajinan seperti celengan, vas bunga, kendi dan hiasan lain dijual di tempat ini.

Kerajinan tembikar ini dulunya memiliki banyak peminat, baik dari dalam kota maupun luar kota. Namun semenjak covid menyerang, usahanya perlahan redup.

“Banyak ya dulu pembelinya, ada yang dari Lampung, Lubuk Linggau, Padang, Palembang juga ada. Biasanya untuk oleh-oleh atau dipakai sendiri,” kata Rapani pada Bengkulunews.co.id Jum’at (16/12/22) siang.

Rapani bukanlah seorang pengrajin tembikar. Modal awal yang harus dikeluarkan waktu itu sebesar Rp25 juta untuk membeli kerajinan ini dari kota Bandung dan Lampung ini. Sehingga jika barang tidak laku, uang tersebut tidak dapat berputar dan pendapatan menurun drastis.

“Kalau dulu itu ya sehari bisa dapat Rp1 juta sampai Rp1,5 juta, sekarang tidak bisa lagi segitu. Susah, kadang ada yang laku, ada juga yang tidak. Dapat Rp100 ribu sehari saja sudah bersyukur,” lirihnya.

Sebelumnya, Rapani memiliki stok barang selama sebulan yang dikirim menggunakan truk. Kini Rapani hanya berani menerima barang tiga atau enam bulan sekali dengan jumlah yang lebih sedikit.

Untuk memenuhi kebutuhannya, ia terpaksa beralih usaha menjadi penjual madu murni dari Palembang dan Bangka. Usaha baru ini cukup untuk menambal kerugian penjualan tembikar yang kian menurun.

“Karena waktu covid itu banyak orang cari madu untuk obatkan, jadi kita coba jual. Hitung-hitung tambahanlah,” ungkapnya.

Penulis : Cindy