Berita bengkulu
Berita Nasional dan Lokal #KitoNian

Mari Mengenal Empat Suku Tionghoa di Indonesia

Perayaan Imlek di Bengkulu. Foto, Cindy/BN

Beragam suku dan bangsa menyebar luas di dunia, hingga memasuki wilayah Indonesia sejak zaman dahulu. Salah satunya adalah suku dari Tionghoa yang terbagi menjadi empat suku terbesar yakni Hokkian, Khek/Hakka, Tiociu dan Kanton berasal dari Tiongkok Daratan.

Para leluhur suku Tionghoa melakukan imigrasi sejak abad ke-16 sampai 19, dengan tujuan untuk berdagang. Salah satu negara yang menjadi tujuan perdagangan mereka adalah Indonesia,  mereka menetap dan menikah dengan wanita pribumi.

Suku Tionghoa sendiri sudah menjadi bagian dari lingkup nasional Indonesia. Lantas apakah perbedaan dari keempat suku tersebut?

1. Hokkian

Suku Hokkian berasal dari Fujian yang terletak di daerah Tenggara – Selatan Tiongkok. Suku ini banyak berimigrasi di berbagai negara, terkhusus di Asia Tenggara. Suku Hokkian sendiri merupakan yang terbanyak berada di Indonesia.

Bahasa Hokkian dikenal dengan dialek Minnan Selatan dan merupakan bagian dari Bahasa Han.  Biasanya dialek ini digunakan oleh Provinsi Fujian, Taiwan, Guangdong bagian Utara dan Asia Tenggara.

Sekitar kurang lebih 50 juta orang Tionghoa menggunakan bahasa ini di seluruh dunia, dikarenakan mayoritas orang-orang yang merantau berasal dari Fujian.

Suku Hokkian yang tersebar di Indonesia meliputi daerah, Sumatera Utara, Riau (Pekanbaru), Sumatera Barat (Padang), Sumatera Selatan (Palembang), Jambi, Bengkulu, Bali, Kalimantan (Kutai dan Banjarmasin), Jawa, Sulawesi (Makassar, Manado dan Kendari) dan Ambon.

2. Suku Hakka

Suku Hakka merupakan salah satu kelompok dari Tionghoa Han yang tersebar di tiongkok. Bahasa yang digunakan oleh suku ini adalah Hakka, namun di Indonesia biasa dikenal dengan Bahasa Khek. Kelompok Tionghoa Han dari suku Hakka ini tersebar di kawasan pegunungan di Provinsi Guangdong, Fujian dan Guangxi.

Setiap daerah memiliki dialek berbeda-beda, sesuai provinsi dan gunung dimana mereka tinggal. Bahasa Khek atau Hakka merupakan satu dari tujuh Bahasa utama rakyat Tiongkok pada saat ini.

Walaupun berbeda tempat, namun Bahasa Hakka yang berbeda dailek dan logat akan mudah dipahami oleh orang-orang Hakka satu sama lain.

Bahasa Hakka ini juga memiliki kekerabatan yang sangat erat dan dijaga oleh sesame mereka.

Bahasa Hakka juga memiliki kekerabatan yang sangat erat dan dijaga dibandingkan dengan bahasa Mandarin dan bahasa Tionghoa lainnya.

Sehingga walau kelompok ini berpindah-pindah tempat, mereka tetap akan melestarikan dan mempertahankan bahasa Hakka ditempat baru. Jumlah yang tersebar sekitar 30 sampai 45 juta orang di dunia.

Suku Hakka sendiri di daerah Tiongkok Selatan, dikenal sebagai pendatang terakhir yang berimigrasi ke tanah orang lain. Mereka sering bertahan hidup di tanah yang tidak subur, bahkan dianggap rendah.

Mereka dianggap rendah, miskin dan kurang adab, walau banyak penolakan yang diterima menjadikan suku ini lebih berani, rajin, gigih dalam bekerja keras.

3. Suku Tiochiu

Suku ini menggunakan bahasa Tiochiu dan termasuk dalam rumpuan bahasa Sino – Tibet. Dialek ini mirip dengan bahasa Hokkian yang terpengaruh dengan bahasa Kanton. Hal tersebut disebabkan oleh letak geografis dari suku Tiochiu yang berada di sebelah Utara Provinsi Guangdong dan dekat dengan perbatasan Provinsi Fujian.

Suku Tiochiu yang tersebar ada sekitar 10 sampai 15 juta orang di seluruh dunia. Pada wilayah Indonesia sendiri suku ini tersebar di daerah Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat (Pontianak dan Ketapang).

Orang yang berasalah dari Tiochiu disebut dengan orang Chaosan, gabungan antara Chaozhou dengan Shantao. Para suku Tiochiu yang tersebar di Indonesia berasal dari Provinsi Guandong yakni Jieyan, Chaozhou, dan Shantou.

4. Suku Kanton

Suku ini memiliki penduduk yang berasal dari Guangzhou yakni ibu kota dari Provinsi Guangdong, daerah terbesar Tiongkok bagian selatan. Mereka dikenal dengan pendidikan yang tinggi dan memiliki pengobatan tradisional yang sangat mujarab.

Bahasa Katon di Indonesia, disebut sebagai bahasa Konghu yakni salah satu dialek Tionghoa yang dituturkan di daerah barat Tiongkok sepertiGuangdong, Hong Kong, Makau dan Tionghoa dari Asia Tenggara.

Bahasa ini paling banyak digunakan di seluruh dunia, dengan jumlah hampir 70 juta orang. Bahasa ini merupakan dialek Han tertua yang ada sampai sekarang dan digunakan pada masa Dinasti Tang.

Setelah ratusan tahun hidup di Kota Pdang, mereka memperlajari banyak hal untuk beradaptasi dan membentuk sistem kehidupan juga lingkungan.

Suku Kanton yang tersebar di Indonesia meliputi daerah Jakarta, Medan, Makassar dan Manado.

Mereka juga memiliki dua kongsi pilar masyarakat Tioghoa, yakni kongsi gedang dan kongsi kecik.

Sedangkan kelenteng merupakan pengikat  moral dan penjaga peradaban, serta interaksi yang erat dengan masyarakat Minang berdasarkan kesamaan bahasa.

Sebagian hasil dari proses adaptasi tersebut, kebudayaan mereka kini tampil dengan ciri campuran Tionghoa dan Minang atau mengalami alkulturasi kebudayaan.

Baca Juga
Tinggalkan komen