
BENGKULU – Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, teknologi juga semakin canggih. Setiap tahun hampir selalu ada saja yang baru. iPhone baru, game baru, aplikasi baru, semuanya baru.
Untungnya cuma teknologi ya. Kalau yang baru pasangan, kayaknya agak lain ceritanya, hehe.
Nah, di tengah perkembangan itu, ternyata masih ada seorang guru cantik yang memilih cara sederhana untuk membuat anak-anak kembali memperhatikan dunia di sekitarnya.
Namanya ialah Madya Putri Utami, atau yang kerap disapa Kak Tami. Dia merupakan seorang guru TK Dharma Wanita Persatuan Provinsi Bengkulu yang berada di Jalan Taman Remaja, Kelurahan Lingkar Timur, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu.
Oh iya, sebelum lanjut ke Kak Tami, saya mau kasih tahu dulu nih. Dulu, di Taman Remaja itu banyak hewan loh, serius.
Berbagai jenis. Ada babi, burung berbagai jenis, ular, dan ada juga hewan yang sampai sekarang kayaknya paling banyak populasinya.
Apa itu? Yap namanya Buaya. Bukan buaya yang ada di kandang ya. Ini buaya darat. Contohnya kayak begini.
Papa kamu tukang tambal ban ya? Kenapa? Soalnya hatiku terus menempel di hatimu. Nah, itu buaya, haha bercanda.
Sudah tidak usah diperpanjang, daripada nanti pembahasannya malah berubah jadi cerita tentang hewan, kita lanjut ke Kak Tami saja. Kalau bicara soal Taman Remaja memang enggak akan selesai. Apalagi kalau membahas kondisinya sekarang, bisa panjang lagi ceritanya.
Kak Tami sendiri merupakan perempuan asli Bengkulu. Ia merupakan alumni S1 Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD di Universitas Bengkulu (UNIB). Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Negeri Jakarta dengan program studi yang sama.
Makanya sekarang jadi guru TK. Kalau riwayat hidup Kak Tami ditulis semuanya, panjang banget. Bisa-bisa lebih panjang daripada antrean BBM kalau sedang langka, seperti hari ini. Jadi mending kita singkat saja ya.
Sudah sekitar 10 tahun Kak Tami menjadi guru. Menjadi guru ternyata bukan pilihan yang muncul begitu saja. Dunia pendidikan memang sudah dekat dengan kehidupannya. Sepeti Ayahnya yang juga seorang guru.
Namun, ada beberapa sosok yang membuat Kak Tami semakin tertarik menjadi guru anak usia dini. Dia mengidolakan Ibu Nurmisbah, Ibu Mei dan Herlina yang menurutnya merupakan sosok yang sangat menyayangi anak-anak.
Dan kebetulan Kak Tami juga sangat menyayangi anak-anak. Wah, beruntung banget ya jadi anak Kak Tami. Pengen jadi suami dari anak Kak Tami rasanya. Eh kidding. Jangan serius-serius amat bacanya, hehe.
Kita lanjut. Kesehariannya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya. Bangun, beraktivitas, mengajar, pulang dan menjalani kehidupan seperti biasa.
Namun, ada satu hal yang membuat Kak Tami berbeda. Dia adalah seorang pendongeng. Jadi kalau ada kegiatan atau pekerjaan mendongeng, Kak Tami langsung berubah menjadi seorang pencerita.
Buku dibuka, cerita dimulai, ekspresi keluar, suara berubah-ubah, dan anak-anak pun mulai memperhatikan. Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Kak Tami adalah ketika dirinya mendapat kesempatan mendongeng di Lembaga Pemasyarakatan atau Lapas anak.
“Pengalaman pertama yang luar biasa itu di lapas anak. Kenapa? Karena anak-anak lapas loh didongengin,” ujar Tami.

Bagi Tami, pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang tidak biasa. Sebab, dia tidak hanya sedang bercerita. Dia sedang berhadapan dengan anak-anak yang memiliki latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda.
Dan dari sana, dia semakin melihat bahwa anak-anak sebenarnya memiliki dunia yang sangat luas. Dunia yang penuh imajinasi. Dunia yang kadang sederhana, tapi justru membuat orang dewasa tersenyum sendiri.
Selain mendongeng di berbagai kegiatan, Kak Tami juga membuka sanggar dongeng di rumahnya. Setiap Sabtu atau Minggu, ia melatih anak-anak yang ingin belajar mendongeng.

Jadi kalau ada anak-anak yang mau belajar dongeng, boleh banget datang. Kalau bapak-bapak mau datang juga boleh. Tapi belajar mendongeng ya. Bukan minta didongengin sebelum tidur, hehe.
Nah, dari sinilah sebenarnya cerita Kak Tami menjadi menarik. Dia bukan hanya seorang guru TK. Ia juga sedang berusaha memperkenalkan kembali sesuatu yang sederhana kepada anak-anak di tengah derasnya perkembangan teknologi, yaitu cerita.
Hari ini, kata Kak Tami, anak-anak semakin mudah mengenal handphone. Baru bangun tidur bisa mencari handphone, mau makan mencari handphone, lagi diam mencari handphone.
Kadang anak belum ditanya mau makan apa, sudah lebih dulu bertanya, HP mana? Nah, kondisi seperti inilah yang menjadi perhatian Kak Tami.
Menurutnya, anak memang tidak mungkin sepenuhnya dijauhkan dari teknologi. Namun, anak tetap perlu diberikan ruang untuk tumbuh tanpa terus-menerus bergantung pada layar.
Sebab, menurut Kak Tami, jika sejak kecil anak terlalu dimanjakan dengan hal-hal yang tidak baik bagi perkembangannya, akan lebih sulit membentuk kebiasaan dan karakter mereka ketika sudah besar.
Karena itu, dia memilih dongeng sebagai salah satu cara untuk mendekati anak, bukan untuk memusuhi handphone, bukan juga untuk mengatakan bahwa semua teknologi itu buruk. Tetapi memberikan pilihan lain kepada anak, pilihan untuk mendengar cerita, pilihan untuk berimajinasi, pilihan untuk berbicara, dan pilihan untuk tertawa bersama orang lain, bukan hanya dengan layar handphone.
Menurut Tami, dongeng dapat membantu anak menambah pengetahuan. Anak juga menjadi lebih aktif, berani berkomunikasi dan menggunakan imajinasinya. Dan yang paling menarik, saat mendongeng, respons anak-anak itu macam-macam.
Ada yang tertawa, ada yang tepuk tangan, ada yang ikut menjawab, ada juga yang tiba-tiba bertanya sesuatu yang kadang membuat orang dewasa harus berpikir dulu.
Memang anak-anak begitu, kata Kak Tami. Mereka jujur, mereka tulus, dan mereka lucu. Kadang kelucuan anak-anak justru muncul bukan karena mereka sengaja melucu, tetapi karena mereka mengatakan apa yang ada di kepalanya.
Itulah yang membuat Tami senang mendongeng. Baginya, anak-anak bukan hanya pendengar cerita. Mereka adalah bagian dari cerita itu sendiri.
Ketika anak tertawa, ketika mereka bertanya, ketika mereka ikut berekspresi, di situlah dongeng menjadi hidup. Dan mungkin, di tengah zaman yang semuanya serba digital ini, dongeng memang terlihat sederhana.
Tidak ada layar, tidak ada tombol, tidak ada jaringan internet, tidak perlu charger, tapi ada suara manusia, ada ekspresi, ada interaksi dan ada imajinasi. Mungkin itu yang sedang coba dijaga Kak Tami.
Agar anak-anak tidak kehilangan dunia masa kecilnya hanya karena terlalu cepat mengenal dunia digital. Sebab, kata Kak Tami, anak-anak memang boleh mengenal teknologi. Boleh bermain game, boleh menonton, boleh menggunakan handphone.
Tapi jangan sampai mereka lupa bagaimana caranya bermain, berbicara, tertawa, berimajinasi dan mendengarkan cerita. Dan di tengah derasnya arus digital itu, seorang guru bernama Kak Tami memilih berdiri dengan cara yang sederhana.
Ia bercerita, karena mungkin untuk menyelamatkan perhatian anak-anak, kita tidak selalu membutuhkan sesuatu yang canggih. Kadang, cukup sebuah cerita, dan seseorang yang mau menceritakannya.
Dan ada pesan Kak Tami yang sederhana.
Anak-anak boleh mengenal teknologi, tetapi jangan sampai teknologi yang mengenalkan mereka pada dunia, sementara orang tua dan guru justru kehilangan kesempatan untuk mengenalkan mereka pada kehidupan.
Dan di tengah zaman yang serba digital ini, Kak Tami memilih satu cara sederhana untuk menjaga itu semua. Dia mendongeng.
Karena kadang, untuk membuat anak meletakkan handphone, kita tidak perlu merebutnya. Cukup membuat mereka penasaran dengan cerita berikutnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!