Gambar BengkuluNews

Dari Desa Padang Bindu ke Ruang Sidang MK, Kisah Ilham Menembus Batas

Dwinka Kurniawan
Dari Desa Padang Bindu ke Ruang Sidang MK, Kisah Ilham Menembus Batas

BENGKULU – Hallo-hallo warga Bengkulu! Satu titik dua koma Mimin cantik siapa yang punya? Eh, salah. Mimin cowok, bukan cewek. Hehehe.

Tapi kali ini mimin tidak mau bahas jodoh. Mimin mau kasih tahu sesuatu yang lebih penting. Ada anak Bengkulu yang prestasinya keren.

Soalnya kalau Bengkulu muncul di berita, jangan begal terus, jangan korupsi terus, jangan narkoba terus. Sekali-sekali kita viralkan yang bikin bangga. Biar orang tahu, anak Bengkulu juga bisa.

Namanya Ilham Pransetyo. Pemuda yang lahir di Curup dan menetap di Kabupaten Bengkulu Selatan. Dan jangan anggap biasa-biasa saja.

Ilham berhasil menjadi salah satu kuasa hukum dalam Perkara Nomor 104/PUU-XXIV/2026 di Mahkamah Konstitusi. Perkara tersebut menguji konstitusionalitas Pasal 1 angka 22 KUHAP mengenai definisi advokat dan Pasal 151 ayat (2) huruf b KUHAP yang berkaitan dengan ketentuan bantuan hukum dalam proses peradilan pidana.

Widih keren, serius. Kalau di sepak bola, ini sudah seperti klub yang main di Liga Champions. Mimin mau bilang Real Madrid. Tapi nanti ada fans Barcelona yang tersinggung. Jadi sudah, kita aman saja. Wkwkwk.

Yang jelas, perjalanan Ilham sampai bisa berdiri di ruang sidang MK bukan perjalanan satu malam. Bukan juga karena bangun tidur tiba-tiba dapat undangan ke Jakarta. Ada proses panjang di belakangnya.

Bukan Anak Sultan

Ilham bukan berasal dari keluarga berada. Ayahnya bekerja sebagai wiraswasta, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga. Jadi kalau mau pakai istilah zaman sekarang, Ilham bukan anak sultan. Tapi justru dari keluarga sederhana itulah mimpi besar tersebut tumbuh.

Sejak SD, SMP hingga SMA, Ilham dikenal sebagai sosok yang rajin dan memiliki tekad kuat untuk melanjutkan pendidikan. Ia punya cita-cita kuliah di salah satu kampus terbaik di Indonesia. Masalahnya, cita-cita memang gratis. Yang mahal itu perjuangannya. Hehehe.

Setelah tamat SMA, Ilham berani meninggalkan kampung halaman dan merantau ke Yogyakarta. Di sana, ia diterima di Universitas Islam Indonesia atau UII dan mengambil jurusan Hukum.

Nah, di sinilah cerita panjang itu dimulai. Anak desa masuk ke kota.

Bukan cuma harus belajar hukum, tapi juga belajar hidup mandiri. Kalau mimin dulu merantau, yang pertama saya cari bukan perpustakaan. Warung nasi murah. Prioritas hidup, warga Bengkulu. Wkwkwk.

Tapi Ilham serius. Ia menyelesaikan pendidikan S1 tepat waktu dengan predikat cumlaude. Nah, kalau sudah begini mimin tidak bisa bercanda lagi.

Ini keren, serius ini. Dari keluarga sederhana, anak desa, merantau jauh, kemudian pulang membawa prestasi.

Mau Kuliah ke Jerman

Selesai S1, ternyata Ilham belum puas. Ia punya keinginan melanjutkan pendidikan S2 ke Jerman. Jerman, saudara-saudara!

Mimin saja kalau disuruh pergi ke Bengkulu Utara kadang sudah menghitung bensin. Ilham malah mikirnya Jerman. Wkwkwk.

Namun pada akhirnya, ia memilih tetap melanjutkan pendidikan di Indonesia. Ilham kemudian diterima di Universitas Gadjah Mada atau UGM dan mengambil bidang Hukum Bisnis.

Di UGM, aktivitasnya tidak hanya belajar di ruang kelas. Ia aktif dalam berbagai organisasi, kepengurusan, seminar dan kegiatan akademik maupun profesional.

Ilham juga dipercaya menjadi moderator dalam berbagai kegiatan. Ia bertemu dengan banyak tokoh dan orang-orang hebat di bidangnya. Dari situlah pengalaman dan jejaringnya semakin berkembang. Pelan-pelan, pintu demi pintu mulai terbuka.

Kakak Beradik Sama-sama Merantau

Perjuangan Ilham di Yogyakarta juga tidak dilakukan sendirian. Ada sang adik, Dea Dwiana Putri. Mau gak ya Kak Ilham merestui mimin wkwkwk.

Dea kini juga menempuh pendidikan hukum di UII. Jadi kakak-adik ini sama-sama merantau ke Yogyakarta. Sama-sama mengejar pendidikan. Sama-sama membawa harapan orang tua. Kalau di rumah biasanya kakak-adik ribut rebutan charger. Kalau mereka, yang diperebutkan mungkin masa depan. Hehehe, bercanda.

Yang jelas, perjalanan keduanya tidak mudah. Mereka ingin mewujudkan sesuatu yang dulu belum sempat dirasakan kedua orang tua mereka, pendidikan tinggi. Karena bagi keluarga ini, pendidikan bukan sekadar gelar. Pendidikan adalah jalan untuk mengubah keadaan.

Sampai di Mahkamah Konstitusi

Dan sampailah kita pada bagian yang bikin mimin bilang, “Wih, ternyata sejauh ini perjalanan anak Bengkulu.”

Ilham berhasil menjadi salah satu kuasa hukum dalam Perkara Nomor 104/PUU-XXIV/2026 di Mahkamah Konstitusi. Perkara ini diajukan oleh para advokat dari berbagai daerah di Indonesia.

Mereka mempersoalkan sejumlah ketentuan dalam KUHAP baru, khususnya mengenai definisi advokat dan bantuan hukum dalam proses peradilan pidana. Para pemohon menilai rumusan tersebut berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum, mengaburkan batas profesi advokat dan berdampak terhadap kualitas pembelaan hukum bagi masyarakat pencari keadilan.

Dalam persidangan, sembilan Hakim Konstitusi hadir lengkap. DPR RI diwakili Anggota Komisi III DPR RI M. Nasir Djamil dari Fraksi PKS. Sementara Pemerintah diwakili Kementerian Hukum dan Kejaksaan RI dengan delegasi yang dipimpin Syahmardan dari Kementerian Hukum.

Dan di tengah ruang sidang itu, ada nama Ilham. Seorang anak yang memulai perjalanannya dari daerah. Yang dulu duduk di bangku sekolah dengan cita-cita besar. Kemudian merantau ke Yogyakarta, kuliah, belajar, berorganisasi, membangun pengalaman dan ampai akhirnya berdiri sebagai kuasa hukum di Mahkamah Konstitusi.

Kalau ini film, mungkin musik latarnya sudah mulai masuk. Mimin jangan sampai ikut nangis pula.

Mimpi yang Dibawa dari Desa

Kalau kita lihat sekilas, yang terlihat hari ini adalah seorang pemuda yang berhasil menembus ruang hukum nasional. Tapi kalau melihat ke belakang, ceritanya jauh lebih panjang.

Ada ayah yang bekerja sebagai wiraswasta, ada ibu yang memilih mengurus rumah, ada keluarga sederhana yang mungkin tidak bisa memberikan semuanya. Namun mereka memberikan sesuatu yang jauh lebih penting, dukungan.

Ilham dan Dea kemudian membawa dukungan itu ke tanah rantau. Mereka belajar, mereka berjuang, mereka jatuh, bangun, kemudian berjalan lagi. Sampai akhirnya, satu per satu mimpi mulai diwujudkan.

Ilham menyelesaikan S1 di UII dengan predikat cumlaude. Kemudian melanjutkan S2 di UGM. Aktif dalam berbagai kegiatan akademik dan organisasi. Dan kini menjadi salah satu kuasa hukum dalam perkara di Mahkamah Konstitusi.

Sementara Dea juga melanjutkan pendidikan hukum di UII. Dua anak, satu keluarga, satu perjuangan, membawa satu harapan, membahagiakan orang tua.

Dari Padang Bindu, Menembus Batas

Mungkin ini yang ingin mimin sampaikan. Jangan pernah malu berasal dari desa. Jangan pernah merasa kecil hanya karena keluarga kita sederhana. Sebab seseorang tidak ditentukan oleh dari mana ia berasal.

Ia ditentukan oleh apa yang ia lakukan setelah memulai perjalanan. Ilham berangkat dari Desa Padang Bindu. Meninggalkan kampung halaman, merantau ke Yogyakarta, menempuh pendidikan, membangun pengalaman, sampai akhirnya berdiri di ruang sidang Mahkamah Konstitusi.

Jadi, kalau hari ini ada anak muda Bengkulu yang merasa mimpinya terlalu tinggi, mungkin kisah Ilham bisa menjadi pengingat. Mimpi memang boleh tinggi, asal mau berjuang. Karena kalau mimpinya rendah, mimin khawatir nanti kepentok meja. Wkwkwk.

Tapi serius. Tempat kita dilahirkan mungkin menentukan dari mana kita memulai. Namun tidak pernah menentukan sejauh mana kita bisa melangkah. Dan Ilham sudah membuktikannya.

Dari Desa Padang Bindu ke Yogyakarta. Dari bangku kuliah ke dunia profesional. Hingga akhirnya sampai ke ruang sidang Mahkamah Konstitusi.

Bukan karena semuanya mudah. Tapi karena ia memilih untuk terus berjalan. Dan mungkin, inilah bagian paling indah dari sebuah perjuangan.

Ketika mimpi yang dulu hanya berani dibicarakan di rumah, perlahan berubah menjadi kenyataan di depan mata orang tua.

Mimin tutup ya. Karena kalau diteruskan, ini bukan lagi berita feature. Ini sudah berubah jadi skripsi. Dan mimin tidak mau Ilham nanti protes, “Bang, ini mau diberitakan atau mau dijadikan disertasi?” wkwkwk

Salam dari Bengkulu.

Anak desa juga bisa menembus batas.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!