Logo

Dilema, KKT Pakai Dana Pribadi

Kasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Bengkulu, Firman Arief

Kasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Bengkulu, Firman Arief

Exif_JPEG_420

Kasi Dinas Pariwisata an Kebudayaan Provinsi Bengkulu, Firman Arief.

Bengkulunews.co.id – Tahun ini Keluarga Kerukunan Tabut menjadi dilema. Pasalnya, dana untuk penyelenggaraan ritual Tabut menggunakan dana pribadi. Terang saja, walaupun sudah berdamai dengan Pemerintah Provinsi, KKT tetap tidak mengambil dana bantuan dari Pemda Provinsi. “Kami menolak ambil pemberian dana oleh pemerintah Provinsi,” Ungkap Heriandi Amin, selaku Sekretaris Kerukunan Keluarga Tabut. Dalam hal ini Heriandi juga tidak mau banyak bicara.

Seperti itu juga dana bantuan dari Pemerintah Kota Bengkulu. Bedanya, anggaran dana bantuan sebesar Rp 360 juta sudah ketok palu, tetapi belum bisa cair, karena masih menjalani proses yang panjang. Saat dikonfirmasi di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bengkulu, kemungkinan dana akan cair satu minggu lebih lagi.

Disisi lain, Kasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu, Firman

Arief, menyampaikan, memang sampai saat ini KKT belum mengambil dana bantuan dari Pemerintah Provinsi Bengkulu yang sudah menganggarkan sebesar Rp 200 juta untuk KKT. “Dana tersebut tidak diterima oleh pihak KKT. Mungkin pihak KKT sudah mandiri dalam hal pendanaan,” ujarnya saat ditemui Bengkulu News diruang kerjanya Jum’at (31/9) kemarin.
Tetapi pada prinsipnya, Pemda Provinsi tetap mendukung dan berpartisifasi dalam tabot terutama panggung. Apalagi, Festival tabot merupakan pegelaran seni yang bersifat univarsal karena semua kalangan bisa menikmati.

“Untuk kegiatan festival  Tabut tetap dilaksanakan di lapangan merdeka, lokasi View Tower Bengkulu. Kegiatan tabot selain menggelar pagelaran seni juga terdapat beberapa pagelaran kerajinan tangan,  makanan dan bazar. Kegiatan tabot akan di gelar dari tanggal 1 sampai 10 Oktober 2016,” tambahnya.

Festival Tabut merupakan acara tahunan masyarakat Kota Bengkulu khususnya warga Kerukunan Keluarga Tabut (KKT). Merekalah yang membuat berbagai jenis Tabut sakral. Tabut sakral keseluruhannya berjumlah 17 buah. Serta terbagi lagi menjadi  dua bagian yaitu 9 tabot imam dan 8 tabot bansal. Setiap tabut memerlukan dana sedikitnya  Rp 15 juta rupiah, tergantung besar dan tingkat kesulitan pembutan tabut tersebut,”  ujar Ujang salah satu warga KKT dilokasi pembuatan tabot sakral di Pasar Melintang.

Kegiatan festival tabot pada hari sabtu (1/10) pembukaan festival yang akan di buka secara langsung oleh Gubernur Bengkulu Dr. H. Ridwan Mukti.  Sedangkan pada hari senin dan selasa akan di gelar lomba musik dol tingkat Sanggar dan lomba ikan-ikan. Kemudian pada hari rabu dan kamis, maisng-masing lomba ikan-ikan dan lomba musik dol tingkat SD serta lomba Rebana. Hari jum’at dan sabtu  akan digelar lomba Tari Kreasi Tabut. Sedangkan hari minggu lomba lagu perjuangan, pagelaran Seni dan Budaya serta lomba Telong-telong.

“Penutupan Festival  Tabut  dilakukan kembali oleh Bapak Gubernur Bengkulu Dr. H. Ridwan Mukti. Serta Pawai Tabot Budaya dilapangan Balai Semarak Bengkulu pada keesokan harinya,” pungkasnya.(jdr)