Logo

Usaha Ketoprak Pertama di Bengkulu, Awalnya Dijual Rp700 Perak Sekarang Jadi Rp17 Ribu

BENGKULU – Ketoprak adalah salah satu jenis makanan khas Indonesia yang banyak dijumpai. Makanan ini awalnya populer di Jakarta meskipun asal usul ketoprak masih menjadi perdebatan.

Seiring mudahnya akses transportasi, ketoprak kini tidak hanya dijumpai di pulau Jawa. Di Sumatera, makanan yang khas dengan ketupat dan bumbu kacang ini juga banyak ditemui. Salah satunya di Bengkulu.

Salah satu pedagang ketoprak di Bengkulu, Umi Yati (40) mengatakan, telah memulai usaha ini sejak tahun 2001. Awalnya, suaminya berjualan ketoprak dengan cara berkeliling menggunakan gerobak.

“Kita awal usaha itu buka tahun 2001, bapak keliling. Modal awalnya itu Rp70 ribu,” kata Umi pada Bengkulunews.co.id Kamis (02/03/23) siang.

Cukup sulit berdagang kuliner yang dulunya belum dikenal di Bengkulu. Umi harus menjelaskan terlebih dahulu apa itu ketoprak, barulah konsumen membeli.

“Dulu itu orang Bengkulu belum tau ketoperak itu apa. Jadi kami jelaskan dulukan, isinya ada kuah kacang, lontong, bihun dan toge. Barulah dia mau,” jelasnya.

Hingga pada tahun 2010, dirinya membuka lapak kecil untuk berjualan ketoperak di depan lapangan golf. Menurutnya suka duka yang dirasakan dalam membuka usaha, merupakan hal yang biasa.

Sehingga suka dan duka yang dialami, tidak menjadikan Ia dan sang suami putus asa dalam membangun usaha.

Kini usahanya sudah banyak dikenal masyarakat, jika dulu satu porsi ketoperak dijual sebesar Rp700 perak. Kini Umi dijual dengan harga Rp17 ribu perporsinya. Dalam sehari Ia bisa menjual 60 hingga 70 porsi ketoperak .

Selama 22 tahun membangun usaha, dirinya mampu membiayai ketiga anaknya menempuh pendidikan serta memiliki rumah sendiri.

Walaupun sudah terkenal, Umi masih tetap mempertahankan kualitas bahan ketoperak. Sehingga selalu segar, ketika disuguhkan oleh pelanggan.

“Harapan kita untuk usaha ini supaya masih bisa menyekolahkan anak-anak agar lebih baik dari kita, kalaupun buka usaha yang sama lebih besar lagi,” demikian Umi.