Gambar BengkuluNews

Jejak Pergerakan di Bumi Rafflesia: Dari Serikat Islam hingga Perkumpulan Gadis Sukamerindu

Alwin Feraro
Jejak Pergerakan di Bumi Rafflesia: Dari Serikat Islam hingga Perkumpulan Gadis Sukamerindu

Ilustrasi. AI

Nama Bengkulu kerap luput dari sorotan utama sejarah pergerakan tanah air. Selain cerita tentang Soekarno yang pernah diasingkan di sini, denyut pergerakan seolah hanya terjadi di segelintir wilayah besar di Indonesia. Padahal, jika membaca “Sejarah Daerah Bengkulu” yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978, sejumlah organisasi pergerakan telah muncul sejak awal abad ke 20.

Memang betul, Provinsi Bengkulu secara administratif belum lahir kala itu. Daerah berjuluk Bumi Rafflesia ini menjadi provinsi sendiri pada 18 November 1968, setelah berpisah dari Sumatera Selatan. Ini pula yang membuat dunia pergerakan di sini dipengaruhi oleh gerakan yang ada di Palembang dan Jawa.

Organisasi pertama yang tercatat hadir di Bengkulu adalah Serikat Islam sekitar tahun 1921, semangat itu berkembang melalui cabang PSSI (Partai Sarekat Islam Indonesia). Tak lama kemudian, tahun 1927, ketika Partai Nasional Indonesia (PNI) muncul di tingkat pusat, gaungnya turut menggema di Bengkulu.

Gerakan sosial-keagamaan juga tumbuh subur. Muhammadiyah, yang didirikan di Bengkulu sekitar tahun 1926 oleh Almaini—lebih dikenal dengan nama Bustanul Ichsan—menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan. Tokoh-tokoh seperti H. Yunus Djamaluddin, A. Kancil, Zainu Sailan, Napie, Hasan Din, dan Oei Tjing Hin turut memperkuat fondasinya. Sebuah gedung dibangun di kawasan Kebun Roos (kini Jalan K.H. Ahmad Dahlan) sebagai pusat aktivitas Muhammadiyah.

Pergerakan kaum perempuan juga tidak kalah penting. Tahun 1931, di Sukamerindu, berdiri Perkumpulan Gadis-gadis Sukamerindu yang dipimpin oleh Encik Zainab, bersama Zaleha dan Oepik Ros. Tujuan mereka sederhana namun bermakna—saling menolong antaranggota, terutama ketika menghadapi masa-masa penting dalam kehidupan seperti pernikahan. Setahun kemudian, muncul pula Perhimpunan Siti Fatimah Zahara, yang aktif menggelar pengajian dan tabligh umum di Bengkulu.

Menjelang akhir 1930-an, muncul sejumlah organisasi baru seperti Parindra, Gerindo, serta berbagai perkumpulan kepanduan seperti Hizbul Wathan dan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) yang tumbuh bersama berdirinya Taman Siswa di Bengkulu pada tahun 1937.

Rangkaian organisasi itu menunjukkan satu hal: semangat kebangkitan di Bengkulu bukanlah gerakan yang terisolasi. Ia sejalan dengan arus besar Kebangkitan Nasional 1908 dan Sumpah Pemuda 1928, yang menegaskan cita-cita persatuan bangsa.

Semangat itu mencapai puncaknya ketika Ir. Soekarno diasingkan ke Bengkulu antara 1938–1942. Di kota ini, Bung Karno berinteraksi dengan tokoh-tokoh pergerakan lokal dan membentuk kelompok seni serta olahraga bernama Monte Carlo—bukan sekadar tempat hiburan, tetapi ruang pembibitan kesadaran kebangsaan. Dari sinilah, semangat nasionalisme makin mengakar di hati pemuda-pemuda Bengkulu, menjadi modal penting dalam perjuangan melawan penjajahan Jepang dan Belanda di tahun-tahun berikutnya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!