Jangan Malu untuk Berkarya, Cerita Sucenk Bawa Seni ke Pelosok Desa

Penulis : Cindy

Dedi Suryadi atau akrab disapa Suceng. Foto, Cindy/BN

BENGKULU – Sejumlah kerajinan berbahan dasar batok kelapa berjejer di dalam etalase di sebuah toko di Jalan Danau Kelurahan Dusun Besar Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu.

Toko yang dilabeli Berendo ini berhadapan langsung dengan pemandangan alam Danau Dendam Tak Sudah. Toko ini milik seorang seniman Dedy Suryadi atau akrab disapa Sucenk.

Namanya memang tidak seterkenal politisi. Namun kiprah Sucenk di dunia seni Bengkulu tidak bisa dianggap sepele. Lewat Asosiasi Seniman Bengkulu (ASB), Suceng mencoba mengeksplor sisi seni dari masyarakat desa.

“Kalau kita memang dari dulu konsepnya enviromental art, konsepnya bagaimana seni untuk lingkungan, bukan hanya sumber daya alam tapi manusianya juga,” kata Sucenk pada bengkulunews.co.id, Selasa (18/05/2022).

Pria kurus dengan rambut mencapai punggung ini beralasan, warga di desa-desa juga memiliki potensi kesenian yang kadang tidak muncul di permukaan. Namun potensi ini tersembunyi oleh rasa malu.

Bersama rekannya, Sucenk mencoba untuk menggali dan mengenalkan konsep seni kepada masyarakat desa. Aktivitas ini dilakukan hingga ke wilayah Topos, daerah yang diyakini sebagai desa tertua di Kabupaten Lebong

“Kita bergeraknya dulu dari kota sampai ke desa, sempat kita bermain terakhir bagaimana menyampaikan konsep kesenian itu di dusun tertua Lebong daerah Topos,” ungkapnya.

Perjalanan Sucenk bahkan telah sampai di pulau terluar di Bengkulu, yakni Pulau Enggano. Di pulau ini, Sucenk juga mengenalkan konsep seni yang selama ini dianggap sulit oleh kebanyakan orang.

“Memang sudah, masuk ke situ dan sampai ke Enggano kita masuk emang dari dulu konsepnya seperti itu,” kata Sucenk.

Sucenk mengungkap, kesulitan dari mengenalkan seni ke masyarakat adalah kurangnya rasa percaya diri. Padahal, menurut Sucenk, seni itu mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja.

“Mungkin mereka berpikir kesenian itu dalam roh berpikir itu sangat sulit tapi kita menyampaikan pada mereka seni itu mudah. Diterjemahkan, ibarat gampang dikonsumsi untuk siapa saja,” ungkapnya.

Pria kelahiran Bengkulu 26 September 1986 ini menganalogikan seni itu seperti makanan yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari. Proses mengkonsumsi makanan ini ia anggap sama dengan proses eksplorasi seni di dalam diri setiap orang.

“Kita makan nasi ada lauk ikan ada sayur, tapi kita tidak tahu fungsi dari kadarnya. Nasi itu apa fungsinya, ada karbohidrat, juga ada protein tapi kita tidak mengekspresikan hal itu,” kata Suceng.

Seni, kata Sucenk, membutuhkan proses untuk bisa keluar dari dalam diri setiap individu. Proses inilah yang kadang dilupakan, sehingga masyarakat kadang takut untuk berkarya dengan mengukur seni miliknya pada hasil seni yang sudah jadi.

“Seni juga seperti itu kita mendengarkan musik menikmati seperti lukisan, tarian. Masuk lewat panca indra tapi kita tidak eksplor. Kadang kita itu langsung ingin menjadi sukses padahal ada proses,” jelasnya.

Sucenk sekarang menjadi salah satu penggiat seni dan aktivis di danau dendam tak sudah. Di sini Sucenk juga membuat sebuah karya dan aktivitas yang mengkombinasikan tempat wisata dan seni.

“Setidaknya sudah mencoba,” demikian Dedi.

Video

Baca Juga
Tinggalkan komen