Cerita Doni Hendrik: Dulu Pelaut Kini Mengais Karang

Cerita Doni Hendrik: Dulu Pelaut Kini Mengais Karang

Doni Hendrik di depan tumpukan karung yang berada di rumahnya, jalan Pariwisata Kelurahan Malabero, Kota Bengkulu. Foto, Cindy/BN

BENGKULU – Sore itu mulai terasa sejuk saat Doni Hendrik menyisiri tepian Pantai Malabero. Tangannya yang masih kaku mengumpulkan satu persatu karang yang dibawa oleh pasang laut hari sebelumnya.

Karang ini ia ambil dan ditumpuk di depan rumah kecil berbahan kayu di tepian jalan Pariwisata, Kelurahan Malabero Kota Bengkulu. Karang yang menguning ini dijejer bersebelahan dengan kulit kerang di bawah gantungan karung berisi jala ikan.

Aktivitas ini telah dilakoni Doni sejak tiga tahun lalu, tepatnya saat ia mulai bisa bergerak setelah diserang stroke pada tahun 2019.

“Habis sakit stroke selama tiga tahun, tidak bisa melaut lagi,” ungkap Doni pada bengkulunews.co.id, Selasa (29/11/2022).

Dulunya Doni adalah seorang pelaut. Setengah dari usianya yang kini menginjak 57 tahun dihabiskan dengan mendorong kapal dan bermalam di lautan.

Sejak menderita sakit, Doni yang kini hidup sebatang kara itu terpaksa mencari sumber lain untuk memenuhi kebutuhannya. Tidak ada pilihan lain baginya selain berjualan.

“Jadi dari pada diam, tidak ada pemasukan saya jualan, sekalian latihan badan ini,” kata Doni.

Biasanya, bapak empat anak ini bisa mendapatkan 40 hingga 50 kilogram karang maupun kulit lokan. Benda ini ia jual dengan harga Rp5 ribu per kilogramnya. Dalam sebulan, Doni hanya mampu menghasilkan Rp200 ribu.

Sedangkan untuk jaring ikan, ia membeli dari nelayan lain. Jaring yang masih bagus dipilih dan dibuat ulang sehingga bisa digunakan kembali, lalu dijual dengan harga Rp40 ribu per karungnya.

“Sekarang masih belum normal, jadi jualan ini saja dulu. Kadang lima hari itu belum laku, ya dapet untung lima ribu saja sudah bersyukur,” demikian Doni.

Penulis : Cindy

Baca Juga
Tinggalkan komen