Berwisata ke Sumber Urip, Berwisata ke Alam Mistis

Dokumentasi: M Bisri Mustofa

Bukit Kaba, Foto. Bisri

BENGKULU – Siapa yang tidak kenal Bukit Kaba? Rasanya tidak ada orang Bengkulu yang tidak pernah mendengar nama gunung berapi yang masih aktif di kabupaten Rejang Lebong ini.

Dengan ketinggian 1952 meter dari permukaan laut dan menyajikan alam yang indah, sangat pas bagi para pendaki pemula, ataupun wisatawan minat khusus.

Tapi banyakkah yang tahu jika Gunung Bukit Kaba berada di desa Sumber Urip? Pasti banyak yang belum tahu.

Berikut akan saya paparkan pengalaman selama perjalanan menuju salah satu desa wisata andalan yang ada di kecamatan Selupu Rejang, kabupaten Rejang Lebong, provinsi Bengkulu dan berada di pulau Sumatera tersebut.

Dari Kota Bengkulu ke Lokasi

Perjalanan dari kota Bengkulu ditempuh dalam waktu kurang lebih dua jam. Melewati dua kabupaten, yaitu Bengkulu Tengah dan kabupaten Kepahiang.

Ada yang unik ketika melewati pegunungan di Taba Penanjung yang berbatasan dengan Kepahiang. Kita akan melewati jalan yang berliku-liku dan di kiri kanan akan disuguhi pemandangan lembah ataupun bukit yang masih memiliki pohon-pohon tua di pinggir jalan dan suhu udara yang sejuk.

Bagi yang memiliki kelemahan mabuk perjalanan, situasi jalan yang meliuk-liuk akan membuat perut bagai diaduk-aduk, pusing dan yang paling berat efeknya adalah muntah.

Bagi ‘pemabuk’ disarankan mengkonsumsi obat anti mabuk menjelang keberangkatan atau tidur sepanjang perjalanan.

Masuk ke kota Kepahiang terus melaju hingga mendekati perbatasan kabupaten Rejang Lebong. Ambil jalan dua jalur di sebelah kanan menuju simpang Nangka lalu terus arahkan kendaraan ke arah Lubuk Linggau.

Untuk menghemat waktu, perjalanan tidak menuju simpang yang biasa digunakan yaitu simpang gapura Bukit Kaba, tapi berbelok di simpang di antara mesjid dan taman bunga D’Syandana yang ada di sebelah kanan.

Masuk simpang tersebut sekitar 500 meter, belok kiri hingga sampai pada simpang tiga yang beraspal mulus dan mengambil jalan lurus. Jalan ini merupakan jalan utama menuju desa Sumber Urip.

Semakin Lama Jalan Semakin Kecil dan Rusak

Bagi yang pertamakali ingin mengunjungi desa wisata ini, disarankan untuk mengikuti jalan utama, atau rajin-rajin bertanya supaya tidak salah masuk persimpangan dan menjauhkan anda dari tujuan.

Setelah menempuh perjalanan yang naik turun beberapa bukit mata akan langsung disuguhi oleh pemandangan landscape alam yang indah dan menyejukkan jiwa.

Gapura Desa Wisata Sumber Urip.

Itulah desa tujuan yang ditandai dengan gapura melintang di atas jalan : Desa Wisata Sumber Urip.

Berbagai tanaman sayuran membentang sepanjang perjalanan. Kol, wortel, cabe, dan tomat, mendominasi di kiri kanan jalan. Kebun jeruk juga akan kita temui dalam perjalanan tersebut.

Bukit-bukit dengan gradasi warna hijau dan hitam kecoklatan menjadi latar belakang rumah-rumah penduduk yang permanen.

Ketika hampir sampai pintu gerbang masuk ke TWA Gunung Bukit Kaba, kami singgah di sebuah kedai kopi dengan disain yang menyatu dengan alam.

Tempat Istirahat Shelter_28

Shelter 28 adalah merek kedai tersebut. Dibangun dengan menggunakan bahan terbuat dari bambu yang banyak tumbuh di lingkungan desa.

Sambil menikmati kopi atau makanan lain yang siap saji  kita akan mendapatkan keterangan tentang lingkungan desa, penduduk dan lain-lain yang ingin kita ketahui tentang desa Sumber Urip.

Di kedai kopi yang dikelola oleh anak-anak muda yang berlatar belakang pendaki, calon pengunjung Bukit Kaba  dipersilahkan istirahat. Terserah mau di bangunan utama atau saung. Lapangan parkir berada di antara dua bangunan.

Bila ingin mendaki ataupun menginap  di spot utama lokasi wisata Bukit Kaba tapi tidak membawa perlengkapan memadai,  jangan khawatir. Sebab di kedai ini juga menyewakan alat-alat yang dibutuhkan dalam sebuah pendakian.

Mulai dari Sepatu, Alat Masak, Tenda hingga Alat Tidur

Dengan tarif yang standar calon pendaki dikenakan tarif Rp 30.000 – 65.000 untuk sebuah tenda, tergantung kapasitas dari tenda tersebut.

Untuk alat-alat masak seperti kompor portable penyewa akan ditarik bayaran sebesar Rp 30.000 untuk satu kompor berikut gas.

Sedangkan untuk nesting sama dengan harga sewa kompor, yaitu Rp 30.000/unit. Jasa sewa ini juga sama untuk flysheet.

Anda menganggap sepatu anda tidak pantas untuk jalur berat? Jangan khawatir. Sewa saja sepatu khusus treking. Cukup dengan membayar Rp 40.000/pasang. Maka langkah anda akan menyenangkan melaju di jalur pendakian nanti.

Untuk kenyamanan tidur Shelter_28 juga menyediakan matras dan kantong tidur untuk dirental. Rp 10.000 untuk selembar matras dan Rp 40.000 satu unit kantong tidur. Dengan kedua benda ini akan membantu mengurangi hawa dingin pegunungan waktu anda tidur.

Harga sewa di atas berlaku untuk satu malam dan pengelola akan meminjam kartu pengenal baik KTP, SIM ataupun kartu pelajar penyewa sebagai jaminan.

Di kedai ini kendaraan bisa dititipkan dengan jasa penjagaan sebesar Rp 15.000/unit untuk kendaraan roda dua dan Rp 30.000/unit bagi kendaraan roda empat dalam waktu semalam.

Saudara Yogi sebagai pengelola menambahkan, selain fasilitas di atas, kedai kopi yang dikelilingi oleh kebun sayur ini memberikan pelayanan tempat istirahat/nginap, wc dan mandi secara gratis.

Mau makan atau ngopi? Pesan saja makanan siap saji dengan harga mulai Rp 10.000/porsi dan Rp. 5.000 untuk segelas kopi hitam.

Pokdarwis Bukit Kaba

Perlengkapan pendakian sudah siap semua? Tenaga sudah isi ulang? Saatnya melangkahkan kaki menuju post registrasi pendakian yang berjarak sekitar 20 meter dari Shelter_28 tadi.

Di post yang dikelola oleh Pokdarwis setempat pengunjung wajib mengisi daftar tamu dan menuliskan data. Tapi sebelumnya setiap orang disarankan untuk menjalankan protokoler kesehatan masa pandemi seperti mencuci tangan, menggunakan masker, dan tidak berkerumun ketika di depan pintu loket.

Sebelum menuliskan keterangan diri sebagai tanda menjadi calon pendaki, kita harus membayar dulu tiket masuk yang sudah termasuk asuransi.

Pada hari kerja (Senin hingga Kamis) + asuransi, untuk umum Rp 12.500/orang. Sedangkan bagi  grup/pelajar mendapat  harga khusus, yaitu Rp 10.000/orang.

Hari libur ataupun akhir pekan sebesar Rp 15.000/orang dan bagi grup/pelajar 11.000orang. Harga ini juga sudah termasuk asuransi.

Bagi wisatawan luar negeri harus membayar lebih. Pada hari libur atau week end dikenakan tarif masuk ke TWA Bukit Kaba sebesar Rp 211.500/orang dan hari kerja Rp 111.500/kepala.

Besaran biaya tersebut diluar dari biaya jasa parkir. Untuk pengunjung yang hanya hiking dikenakan biaya Rp 10.000/kendaran roda dua dan roda empat Rp. 25.000,-

Bagi pengunjung yang menginap di Bukit Kaba harus membayar sedikit lebih. Rp 15.000/malam untuk motor dan Rp 30.000/malam bagi mobil.

Pokdarwis Bukit Kaba juga menyediakan fasilitas gratis bagi para pengunjung, yaitu kamar mandi dan wc yang bersih dan besar. Terdapat juga beberapa tempat duduk untuk para tamu yang ingin istirahat.

Kelompok Sadar Wisata yang berdiri tanggal 20 april tahun 2000 saat ini dipimpin oleh seorang pemuda dengan nama lengkap Yulian Adi Pratama.

Menurut pemuda yang ramah ini, Pokdarwis yang mereka kelola juga menyediakan jasa pemandu dengan bayaran Rp 250.000.

Bagi para wisatawan yang ingin menggunakan jasa ojek dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 100.000 pulang pergi dan Rp 60.000 untuk naik atau turun saja.

Dalam masa pandemi pengunjung yang berwisata ataupun mendaki ke Bukit Kaba mencapai 1000 – 1.500 orang.

Perjalanan Menuju Bukit Kaba

Sudah selesai urusan pada pos penjaga? Mari nikmati sensasi berjalan dalam hutan lindung yang masuk dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Curup dan Kepahiang ini.

Dimulai dengan menuruni jalan rabat beton dari pintu masuk, lalu menyeberangi anak sungai yang dangkal, langkah langsung dipaksa mendaki tebing yang tinggi di atas jalan yang juga sudah diberi pengeras yaitu semen kasar.

Desa Wisata Sumber Urip.

Berjalan sekitar 100 meter, jalan semen tersebut berganti dengan anak tangga yang dibuat dari karung yang diisi tanah ataupun pasir.

Bagi pengunjung, tebing pertama ini benar-benar menjadi ujian bagi kemantapan tekad. Tapi jangan dulu menyerah. Nyanyian alam dan sejuknya udara sudah langsung anda rasakan begitu melewati tantangan pertama ini.

Kicau aneka burung, seruling jangkrik akan menghibur sepanjang perjalanan anda. Sepanjang langkah dedaunan hijau dari pohon yang menaungi setiap langkah hingga mendekati puncak.

Lepas dari tanjakan pertama, perjalanan akan sedikit santai. Jika kunjungan anda pertama kali dan tidak membawa guide saran terbaik adalah ikuti jalur jalan setapak utama. Jangan coba-coba menyimpang memasuki persimpangan yang banyak dalam perjalanan ini. Karena persimpangan-persimpangan tersebut tidak membawa anda ke puncak tujuan.

Kalau jalan-jalan anda bertepatan dengan musim beberapa pohon berbunga, maka jalan yang ditempuh akan dihiasi oleh aneka bunga yang gugur dan udara yang anda hirup penuh aroma wangi bunga dan semakin menyegarkan paru-paru.

Kadang-kadang angin menghembuskan dahan ataupun batang-batang pohon dan menyebabkan gesekan-gesekan. Suara gesekan-gesekan tersebut semakin memperindah melodi alam.

Apalagi jika langkah sudah memasuki habitat pohon bambu betung. Suara desau daun bambu-bambu menjulang yang dibelai oleh angin membuat harmoni hutan yang sangat merdu.

Ups, jangan terlena dengan aransemen mahal yang selalu berubah itu. Karena perjalanan masih panjang. Tantangan yang bisa membuat si cengeng akan mengeluh akan ditemui.

Pada jarak pertengahan perjalanan akan ada Tebing Cengeng namanya. Anda mengernyitkan dahi? Atau malah terdengar lucu? Jangan salah. Dinamakan Tebing Cengeng karena tebing yang tidak tinggi ini memiliki jalur yang bisa membuat menangis sebagian pengunjung pada musim hujan.

Struktur tanah yang licin dan hampir tegak lurus bisa membuat orang jatuh berguling berkali-kali.

Tidak heran banyak bekas jejak jalur jalan di tebing ini, bukti inisiatif para pendaki mencari jalur yang aman.

Di tebing ini resiko saat mendaki ataupun menurun sama bahayanya jika diguyur hujan.

Jika bisa menaklukkan Tebing Cengeng, jalan berikutnya relatif aman.

Kalau pendakian ini yang perda  bagi anda. Sering-seringlah istirahat. Banyak lokasi istirahat di sepanjang jalur. Silahkan anda menikmati minuman dan makanan yang di bawa. Tapi ingat, jangan pernah anda tinggalkan ‘mantan’ di lokasi istirahat, kalau tidak mau diacungi jari tengah oleh pendaki setelah anda.

Ada beberapa lokasi jalan yang membuat anda melangkahi pohon berbentuk unik. Jangan takut, pohonnya tidak besar.

Hampir sepanjang perjalanan akan menemukan pohon yang berlumut yang sangat lembut untuk disentuh. Atau pucuk pakis bergelung indah. Ditambah lagi dengan warna-warni pucuk pohon semak belukar akan sangat menyegarkan mata dalam langkah demi langkah yang diayun.

 

Di tiga perempat perjalanan, vegetasi hutan mulai perlahan berganti dengan pakis resam. Jalanan sudah tidak terlalu licin lagi. Karena tanah sudah bercampur dengan akar-akar pakis.

Para pejalan tetap harus memperhatikan langkah. Karena sebelah kiri jalan adalah bibir jurang. Pada satu bagian jalan harus merunduk karena melewati susunan dedaunan pakis yang membentuk lorong pendek. Ada juga pohon pakis tiang yang melintang jalan dan harus melewati bagian tersebut dengan sedikit berjongkok bagi pemilik tubuh yang tinggi.

Tidak lama kemudian, mata akan disambut oleh bentangan bukit-bukit berlapis dan lembah yang dalam.

Bukit Kaba dengan Kisah Mistis

Pada zaman dahulu kala, tersebutlah seorang pemuda pemalas dan ceroboh bernama Malim Bagus yang senang meniupkan suling.

Lahir dalam lingkungan ibu yang penyabar dan bapak yang pemarah.

Pada suatu ketika, saat Malim Bagus menjadi jenang, akibat kecerobohannya ketika mengatur makanan dalam suatu majelis di desa, dia menumpahkan makanan dan mengenai ayahnya.

Jenang adalah pengatur makanan yang berada di tengah-tengah lingkaran para tamu.

Saking malunya sang ayah menarik tangan Malim Bagus untuk pulang. Sesampai di rumah si anak bujang diusir dari desa mereka, yaitu desa Dusun Curup.

Singkat cerita, dalam pengusiran tersebut Malim Bagus berjalan tanpa arah dan sampai di puncak Bukit Kaba. Dalam kesedihan dan kesendiriannya Malim Bagus meniupkan serulingnya hingga membuat salah seorang diwo (bidadati/dewi) jatuh cinta padanya.

Malim Bagus dan bidadari atau dewi cantik itu akhirnya menikah dan menetap di Bukit Kaba.

Lama kelamaan kabar ini diketahui oleh masyarakat desa asal pemuda yang diusir oleh sang bapak. Beramai-ramai mereka menjemput Malim Bagus yang mereka sebut dengan panggilan muning (paman dalam bahasa suku Rejang).

Sang istri Malim Bagus yang merupakan penghuni dimensi alam yang berbeda memperbolehkan suaminya ikut pulang ke desa. Walau dengan berat hati. Tapi dengan satu syarat, penduduk desa harus berjanji tidak memasak gulai rebung dan pakis saat pasta. Jika syarat tersebut di langgar, maka sang istri yang merupakan dewi-dewi itu akan menjemput Malim Bagus.

Sayangnya, beberapa lama kemudian ada warga yang melanggar. Mengetahui pelanggaran itu, bidadari istri Malim Bagus menjemput sang suami.

Ketika menjemput sang suami, bidadari tersebut mengutuk setiap pemuda atau pemudi desa Dusun Curup yang belum menikah ke Bukit Kaba, akan celaka.

Syahdan, sejak itulah berkembang cerita ‘Muning Raib’ atau dalam bahasa Indonesia berarti ‘paman yang hilang’ dan hubungannya mengapa masih ada orang dari desa Dusun Curup mempercayai kisah tersebut enggan mendaki ke Bukit Kaba.

Kita tinggalkan cerita Malim Bagus tersebut dan kita lanjutkan perjalanan hingga ke puncak Bukit Kaba.

Ketika langkah mulai menapaki jalan yang berbatu, itulah tanda sudah memasuki wilayah ‘kediaman’ Malim Bagus. Ditandai dengan sebuah bangunan sempit berbentuk kotak terbuat dari semen yang digunakan sebagai post bagi penjaga sekaligus sebagai tempat berlindung dari hujan ataupun badai bagi pengunjung.

Jalan berbatu akan ditempuh hingga jarak kurang lebih 500 meter. Jalan yang menanjak membuat langkah sangat pelan.

Pemandangan lembah dan bukit di sebelah kiri menuju puncak akan mengurangi rasa lelah.

Jika ingin menikmati suasana alam Bukit Kaba secara maksimal, lakukanlah pendakian pada hari cerah dan usahakan sampai sebelum pukul 2 siang. Walaupun hari cerah, biasanya kalau sudah melewati waktu tersebut, seringkali cuaca mulai berubah mendung.

Mendekati puncak ada jalan yang sudah pakai paving block. Sayangnya di beberapa bagian sudah terlepas dan meninggalkan kerangka semen saja.

Jalan aspal kasar menyambut ketika hampir mendekati Tangga Seribu. Di sebelah kanan di pinggir lembah ada kerangka bangunan yang terbengkalai. Tidak ada keterangan peruntukannya.

Di tangga Seribu naiklah pelan-pelan. Ketika merasa capek istirahat saja sambil memandang panorama di belakang. Kota curup mulai kelihatan nun jauh di bawah sana.

Setelah tenaga, nafas, lutut dan paha mulai membaik silahkan lanjutkan langkah menanjak. Karena puncak Bukit Kaba sebentar lagi ada di bawah telapak kaki.

Saat itu terjadi, lelah perjalanan kurang lebih 2 jam selama pendakian, langsung terlupakan. Di depan, di dasar kawan akan terlihat pemandangan yang sangat menakjubkan. Asap belerang keluar dari ‘cerobong’ yang di dominasi oleh warna kuning. Atau dari permukaan ‘danau’ yang berwarna abu-abu. Setiap kali penulis ke sini, tidak pernah menemukan warna yang sama. Kadang putih susu, kadang putih kekuningan, kadang putih kecoklatan, kadang putih kebiruan.

Sepertinya warna-warna itu dipengaruhi oleh cuaca atau tingkat suhu di dalam ‘danau’.

Dinding batu yang mengelilingi kawah yang kehitaman dan dihiasi oleh rumput hijau adalah daya tarik lain lagi yang akan menyegarkan pandangan dan jiwa.

Jangan terlalu lama di atas sini, karena uap belerang dari dasar kawah yang di bawa angin membuat sesak nafas dan berakibat pusing. Pakailah penutup hidung jika sudah sampai puncak.

Sudah sampai puncak dan sudah merasa puas? Jika waktu masih memungkinkan, turunlah ke sebelah kiri menuju dasar kawah. Karena di tempat ini anda akan menemukan keindahan lain yang lebih menakjubkan.

Kawah mati yang di dasarnya dihiasi oleh air yang biru kehijauan dan di sekitar kawah ada beberapa bukit kecil yang komposisi warnanya sangat menarik.

Hindari berada terlalu dekat dengan bibir kawah. Bebatuan yang longgar dikhawatirkan akan menjatuhkan anda ke dalam kawah. Jika itu terjadi sangat kecil kemungkinan akan selamat, paling kecil resiko akan cacat fisik.

Jika sudah puas, persiapkan langkah berikutnya menuju kawah hidup yang tadi dilihat dari puncak. Antara dua kawah ini di batasi oleh dinding pembatas. Tidak terlalu tinggi. Tapi lumayan mengerahkan tenaga karena harus hati-hati memilih jejak langkah di antara bebatuan.

Nikmati lukisan gradasi warna rumput, lumut, bebatuan dan pasir sepanjang langkah agar tidak terlalu melelahkan perjalanan. Perhatikan sekeliling, karena selama menuju kawah hidup akan semakin sering dikejutkan oleh uap panas yang keluar dari sela-sela batuan.

Jika sudah mencapai puncak dinding, pasang kembali pelindung pernafasan. Uap belerang akan semakin kuat menekan pernafasan. Luangkan waktu sejenak untuk melihat sekeliling kawah dari dekat juga untuk menentukan arah langkah memasuki dasar kawah.

Turunilah dinding lembah dengan hati-hati. Jika sudah mencapai lokasi terdekat, tetap waspadai langkah. Karena ditakutkan akan menginjak bebatuan yang rapuh dan akan membuat alas kaki akan terbakar.

Jangan menikmati pemandangan di sini terlalu lama. Segeralah untuk kembali jika pernafasan anda sudah tidak tahan lagi dan sebelum kepala pusing.

Dasar kawah sudah dijelajahi? Segera naik dan siaplah untuk mendapatkan pemandangan berbeda lagi melalui Bukit Gajah.

Di lapangan kaki bukit sekilas seperti gajah ini sering dijadikan lokasi perkemahan bagi para pengunjung di akhir pekan, hari libur, tujuh belasan, sumpah pemuda ataupun tahun baru.

Memandang kota curup dari bukit yang masih terasa magis ini akan sangat indah jika malam hari.

Permasalahan dan Pemecahannya

Sayangnya tujuan wisata andalan kabupaten Rejang Lebong ini masih banyak terdapat sampah-sampah plastik yang ditinggalkan oleh pendaki amatiran.

Untunglah sudah ada program Pokdarwis untuk para pendaki untuk membawa kembali sampah mereka turun. Petugas akan mendata barang bawaan yang akan meninggalkan sampah ketika berangkat dan akan mengecek kembali ketika pendaki sudah turun.

Selain itu juga sudah mulai tumbuh kesadaran para pendaki untuk membersihkan lingkungan Bukit Kaba seperti yang dilakukan oleh kelompok pendaki Sumatera Montain yang ada di Bengkulu.

Pada ulang tahun ke-3 komunitas ini mengajak para pendaki Sumatera dari Aceh hingga Lampung ikut serta dalam kegiatan ‘Bersih Gunung’ pada tanggal 4 Juli 2020. Selain perwakilan dari setiap provinsi di Sumatera, peserta ada juga yang datang sebagai perwakilan dari Jakarta.

Penutup

Era digitalisasi ini telah banyak tumbuh tempat-tempat wisata baru. Ditambah lagi pemerintah menekankan desa untuk menciptakan penghasilan desa dengan team wisata. Baik alam, budaya maupun kuliner.

Disaat desa sudah melakukan hal itu, kebijakan masa pandemi membuat program ini menjadi lumpuh.

Di antara banyak yang tak bergerak, banyak juga yang malah perlahan menapak ke depan.

Sangat disayangkan, yang perlahan maju ini kemudian mati. Menurut pengamatan penulis setelah melakukan obrolan dengan masyarakat sekitar, hal ini terjadi ketika instansi terkait mulai ingin terlibat langsung ataupun ada pihak yang dirugikan.

Yang lain disebabkan oleh ketidakjelasan dalam pengelolaan, sehingga terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaan.

Khusus untuk desa Sumber Urip, lokasi wisata ini tumbuh secara alami berpuluh-puluh tahun lalu, dengan peminat khusus yang semakin hari semakin bertambah.

Jangan berpuas diri dulu. Tingkatkan kenyamanan pengunjung. Kekompakan pengurus dan warga sekitar menjadi kunci utama dalam kesuksesan pengelolaan suatu wilayah terutama bagi penyedia jasa.

Baca Juga
Tinggalkan komen