Logo

Bengkulu Bentuk Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak

Pengukuhan Secara Simbolik Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak IV oleh Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti

Pengukuhan Secara Simbolik Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak IV oleh Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti

Pengukuhan Secara Simbolik Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak IV oleh Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti

Pengukuhan Secara Simbolik Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak IV oleh Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti

bengkulunews.co.id – Provinsi Bengkulu menjadi salah satu pusat pelatihan Satuan Tugas (Satgas) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Hal ini dilakukan guna menekan tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang kerap kali terjadi, khususnya di wilayah Provinsi Bengkulu.

“Kementerian memilih Bengkulu sebagai salah satu prioritas pelatihan Satgas PPA, karena masih tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kepada para fasilitatot PPA diminta untuk melakukan pendataan dan penjangkauan hingga ke daerah pelosok Bengkulu,” ungkap Sesmen Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (PP-PA RI) Wahyu Hartomo dalam Acara Pelantikan Satgas PPA Provinsi Bengkulu Senin siang (31/10).

Disamping itu, hal ini juga dipertimbangkan atas kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap YY, siswi SMP di Padang Ulat Tanding (PUT) Kabupaten Rejang Lebong serta kasus lainnya yang hingga saat ini masih marak terjadi. Seperti yang diungkapkan data pihak Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Provinsi Bengkulu.

Selain sebagai pencegah terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak, Satgas ini juga difungsikan dalam mencegah terjadinya perdagangan manusia serta mencegah terjadinya kesenjangan ekonomi antara laki – laki dan perempuan.

Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti saat membuka pelatihan, menyatakan pihak Pemprov mengapresiasi positif terbentuknya Satgas dan Pelatihan PPA tersebut. Menurut Gubernur Bengkulu yang akrab disapa RM ini, dengan adanya Satgas, kedepan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang diketahui marak terjadi, bisa lebih dini untuk dicegah.

Disamping itu menurut Gubernur Bengkulu RM, dibentuknya Satgas PPA tersebut juga membantu pihak Pemprov Bengkulu untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat yang “kebal” akan penyuluhan atas larangan mengkonsumsi minuman keras. Seperti halnya terhadap masyarakat di kawasan PUT Kabupaten Rejang Lebong, yang dikenal dengan kebiasaan ibu – ibu meminum alkohol dan narkoba yakni “Kelompok Sejuta Enam” yang bangga dengan sebutan SKT (Serikat Kanji Tue).

“Mohon maaf, memang saya ingin mengeksplor persoalan ini dan saya tidak mau menutup – nutupi sesuatu yang buruk yang terjadi di salah satu wilayah Bengkulu,” jelas Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti.

Menyelematkan generasi penerus bangsa yang ada di sana, Pemprov Bengkulu akan memisahkan anak dengan orang tua mereka dan
menyekolahkan anak yang ada dengan sistem boarding school.

“Kami akan mengambil anak – anak mereka dan akan kami pisahkan dari orang tuanya, kami akan sekolahkan mereka dalam sebuah boarding school. Kemudian akan kami kembalikan setelah mereka mengenyam pendidikan tinggi. Hal ini untuk memutus mata rantai supaya anak – anak tersebut tidak mengikuti ibunya yang tidak bisa dijadikan tauladan,” tutup Gubernur RM. (rn)