Gambar BengkuluNews

Bengkulu Jaga Pertumbuhan di Tengah Tekanan Global, Transfer Daerah Turun 20,38 Persen

Alwin Feraro
Bengkulu Jaga Pertumbuhan di Tengah Tekanan Global, Transfer Daerah Turun 20,38 Persen

Pedagang yang berjualan di Pasar. Foto, Cindy/BN

Pemerintah Provinsi Bengkulu menyatakan kondisi ekonomi daerah tetap terjaga di tengah tekanan global. Pada 2025, ekonomi Bengkulu tumbuh 4,82 persen secara tahunan, meningkat dari 4,62 persen pada 2024, mendekati rata-rata Sumatra 4,81 persen dan nasional 5,11 persen.

Struktur ekonomi masih ditopang sektor pertanian, perkebunan (sawit dan kopi), perikanan, serta perdagangan. “Stabilitas ekonomi daerah juga tercermin dari inflasi Bengkulu yang tetap terkendali pada level 2,7 persen secara tahunan pada 2025,” ujar RA Denni.

Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan triwulan I 2026 berada pada kisaran 4,47–5,03 persen secara tahunan. Namun, terdapat tekanan dari penurunan transfer ke daerah sebesar 20,38 persen serta belum pulihnya sektor pertambangan.

Inflasi Maret 2026 tercatat 2,85 persen secara tahunan, lebih rendah dari nasional 3,48 persen. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Mukomuko sebesar 3,83 persen, sedangkan Kota Bengkulu sebesar 2,52 persen.

Dari sisi fiskal, pendapatan negara hingga Februari 2026 mencapai Rp409,5 miliar atau tumbuh 24,18 persen, sementara belanja negara Rp942,94 miliar atau tumbuh 25,33 persen. Penyaluran transfer ke daerah mencapai Rp1,9 triliun atau 22,71 persen dari pagu APBN.

Realisasi pendapatan APBD Bengkulu tercatat Rp656,31 miliar, dengan belanja daerah Rp811,8 miliar. Kota Bengkulu mencatat PAD tertinggi sebesar Rp21,6 miliar, sementara realisasi transfer tertinggi di tingkat provinsi mencapai 25,36 persen.

Di sisi global, risiko geopolitik dinilai dapat memengaruhi harga minyak dunia. Dalam skenario terburuk, harga minyak dunia dapat mencapai 132 dolar Amerika Serikat per barel apabila konflik Iran–Israel berkembang menjadi perang terbuka dan mengganggu produksi minyak OPEC. Pada skenario perang proksi, harga minyak diperkirakan mencapai 99,7 dolar Amerika Serikat per barel, sedangkan konflik terbatas diproyeksikan mendorong harga minyak ke level 84 dolar Amerika Serikat per barel.

Di tengah kondisi tersebut, sektor telekomunikasi, kesehatan, manufaktur hilir, makanan dan minuman, utilitas, serta sektor pemerintahan menjadi penopang aktivitas ekonomi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!