
Ilustrasi. AI Generated
Oleh : Muhammad Prihatno
Serial tulisan tentang Tolak Tambang Emas Bukit Sanggul Seluma
Di lereng bukit hijau yang kini mulai menguning, Pak Samin menarik cangkul dari tanah liat keras. Matahari senja membakar punggungnya yang bungkuk. Di belakangnya, anak bungsunya, Si Joko, berlari sambil menangis.
Joko: “Bapak! Mereka datang lagi! Orang pakai jas hitam itu bilang besok bulldozer masuk!”. Pak Samin menoleh, wajahnya pucat seperti mayat hidup. Ia memeluk Joko erat, tapi tangannya gemetar.
Pak Samin: (suara parau) “Tenang, Nak. Bapak nggak akan biarkan mereka rebut tanah kita. Ini tanah kakekmu, nenekmu… darah kita ada di sini.
Malam itu, di gubuk bambu yang berderit, istri Pak Samin, Bu Marni, menangis di sudut.
Bu Marni: “Mereka kasih uang tiga juta, Min. Tiga juta! Kita bisa beli apa? Rumah ini aja udah reyot. Kalau nggak ambil, katanya besok polisi datang.”
Pak Samin: (membentak pelan) “Polisi? Itu antek investor! Mereka bilang ‘pembangunan’, tapi yang dibangun cuma kantong mereka! Aku nggak jual tanah ini, Marni. Nggak!”
*
Tiga hari kemudian, bulldozer datang. Suara mesin mengaum seperti binatang buas. Pak Samin berdiri di depan pagar bambu, cangkul di tangan.
Petugas Lapangan: “Pak, minggir! Ini perintah bupati. Kalau nggak pindah, kami gusur paksa!”
Pak Samin: (teriak) “Gusur?! Ini rumahku! Anakku lahir di sini! Ibu aku mati di sini! Kalian nggak punya hati?!
Seorang polisi mendekat, tongkat di tangan.
Polisi: “Jangan ngelawan, Pak. Ini demi kemajuan. Ambil uangnya, pindah ke kota. Di sana banyak kerja.
”Pak Samin: (air mata mengalir) “Kerja apa?! Aku cuma petani! Tanah ini nyawa kami!”
Bulldozer mendorong. Rumah bambu ambruk. Joko menjerit memanggil bapaknya dari reruntuhan. Bu Marni pingsan di pelukan tetangga.
*
Jakarta. Dua bulan kemudian. Di trotoar Pasar Minggu, Pak Samin menjajakan gorengan di gerobak reyot. Asap minyak menusuk matanya. Joko duduk di kardus, menulis huruf di tanah dengan ranting.
Joko: “Bapak, aku laper…”
Pak Samin: (tersenyum paksa) “Sabar, Nak. Bapak jual lima porsi lagi, kita beli nasi.”
Tiba-tiba, teriakan keras.Satpol PP: “Hei! Gerobak ini nggak boleh di sini! Minggir!”
Pak Samin: (memohon) “Pak, baru sejam saya jualan. Anak saya laper. Kasih waktu sebentar lagi…”
Satpol PP: (menarik gerobak) “Aturan adalah aturan! Trotoar bukan tempat dagang!”. Gerobak terbalik. Gorengan tercecer di aspal. Joko menangis. Pak Samin berlutut, memunguti sisa-sisa makanan.
Pak Samin: (berbisik) “Ya Tuhan… apa salahku?”
*
Malam di gang kumuh Cengkareng. Bu Marni batuk darah di atas tikar usang. Joko tertidur dengan perut keroncongan. Pak Samin duduk di pintu, menatap langit kelam.
Pak Samin: (sendiri, suara bergetar) “Aku udah coba segalanya. Dagang? Diusir. Cari kerja? Ditolak. Utang? Nggak ada yang mau kasih. Anakku kelaparan… istriku sekarat…”
Ia bangkit. Mata kosong. Langkah gontai menuju pasar malam. Di sana, sebuah apel merah tergantung di gerobak buah.
Pak Samin: (berbisik pada apel) “Maaf… ini cuma satu. Buat Joko…” Tangan gemetar meraih. Tapi lampu senter menyala.
Penjaga Pasar: “MALING!!!”. Warga berlarian. Teriakan “Pukul! Pukul!” menggema. Tinju, tendangan, batu kecil menghantam tubuh Pak Samin. Ia jatuh. Darah mengalir dari kepala, hidung, mulut.
Warga 1: “Orang kampung datang bikin rusuh!”
Warga 2: “Hajar sampai mati!”
Pak Samin meringkuk. Napas tersengal. Penglihatan kabur. Ia merangkak, tangan menyentuh batu besar di pinggir jalan—batu yang dulu mungkin bagian dari sawahnya.
Pak Samin: (suara pecah, lirih) “Cukup… aku menyerah…” Ia angkat batu itu dengan susah payah. Wajahnya penuh darah dan air mata.
Pak Samin: (teriakan terakhir, menggema di malam sunyi) “TUHAN…!”
“SIAPAKAH YANG ZALIM PADAKU???”
“REZIMKAH, YANG MERAMPAS TANAHKU???”
“WARGAKAH, YANG MEMUKULI AKU???”
“ATAU…”
“ENGKAU YANG DIAM SAJA SAAT AKU MENJERIT???”
Batu itu jatuh. Bruk. Suara tengkorak pecah. Darah menggenang. Joko berlari dari gang, menjerit memanggil “Bapaaak!” Tapi hanya angin malam yang menjawab. Di atas langit Jakarta yang kelam, bintang-bintang seolah menutup mata. Tanah yang hilang tak pernah kembali. Jeritan petani kecil lenyap ditelan deru mesin kota yang tak pernah tidur.
Catatan:
Kisah seperti di atas sangat mungkin akan terjadi ketika Tambang Emas Bukit Sanggul Seluma beroperasi. Dengan demikian selayaknya menjadi peringatan dini bagi para pihak.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!