
KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menawarkan gagasan poros tengah sebagai jalan untuk meredakan polarisasi dan mempertemukan kembali kelompok-kelompok yang berbeda pandangan di tubuh Nahdlatul Ulama.
Gagasan tersebut disampaikan Gus Rozin saat bersilaturahim dengan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Bengkulu dan jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama se-Provinsi Bengkulu.
Menurut Gus Rozin, perbedaan pendapat yang berkembang di internal NU harus diselesaikan melalui dialog, bukan dengan memperlebar jarak antarkelompok.
“Yang pertama tentu keprihatinan atas polarisasi dan perbedaan pendapat yang terjadi di tubuh Nahdlatul Ulama saat ini,” ujar Gus Rozin.
Ia menilai, NU membutuhkan kekuatan penengah yang mampu mengajak seluruh pihak kembali duduk bersama. Poros tengah tersebut tidak dimaksudkan sebagai kelompok baru, melainkan pendekatan untuk mencari titik temu di tengah perbedaan.
Melalui pendekatan itu, pihak-pihak yang selama ini berseberangan diharapkan dapat menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan kelompok.
Gus Rozin mengatakan, persatuan internal menjadi syarat utama agar NU dapat kembali fokus menjalankan perannya dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi umat.
Perkuat ukhuwah nahdliyah
Untuk mengatasi polarisasi, Gus Rozin menekankan pentingnya memperkuat ukhuwah nahdliyah atau persaudaraan di antara sesama warga NU.
Menurut dia, perbedaan pilihan dan pandangan tidak boleh merusak hubungan antarkader maupun melemahkan struktur organisasi.
“Kita ingin NU kembali bermartabat melalui ukhuwah nahdliyah, persaudaraan sesama orang NU,” katanya.
Gus Rozin menilai, ukhuwah nahdliyah perlu ditempatkan sebagai fondasi dalam menyelesaikan konflik internal. Tanpa persaudaraan yang kuat, perbedaan pendapat berpotensi berkembang menjadi pertentangan yang mengganggu konsolidasi organisasi.
Karena itu, ia mendorong agar ruang dialog dibuka lebih luas, baik di tingkat pusat, wilayah, maupun cabang.
Tiga pilar penguatan NU

Selain menawarkan poros tengah, Gus Rozin membawa gagasan penguatan NU melalui tiga pilar, yakni berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat.
Berdaulat, menurut dia, berarti NU harus mandiri dalam menentukan arah organisasi serta tidak kehilangan perannya sebagai kekuatan masyarakat sipil.
“Berdaulat itu artinya NU harus berdaulat, bahkan terhadap dirinya sendiri,” ujar Gus Rozin.
Ia mengatakan, NU harus mampu menjadi sahabat kritis pemerintah. Organisasi dapat mendukung kebijakan yang berpihak kepada masyarakat, tetapi tetap memberikan koreksi ketika kebijakan dinilai tidak tepat.
Pilar bermartabat diarahkan pada pemulihan persaudaraan dan kehormatan organisasi. Sementara pilar bermanfaat menekankan pentingnya kehadiran NU dalam memberikan layanan nyata kepada masyarakat.
“Kita ingin NU ini bermanfaat sampai ke level terkecil. Perguruan tingginya bermanfaat, rumah sakitnya bermanfaat, dan pesantrennya betul-betul bermanfaat,” katanya.
Silaturahim dengan pengurus NU Bengkulu
Dalam pertemuan tersebut, Gus Rozin juga mengapresiasi kehadiran jajaran PWNU dan PCNU se-Bengkulu.
“Saya malam ini bersilaturahim dengan PWNU Bengkulu. Alhamdulillah, semua ketua dan pengurus harian PCNU se-Bengkulu hadir secara langsung,” ujarnya.
Ia menilai, soliditas pengurus NU di Bengkulu dapat menjadi modal penting untuk memperkuat organisasi di daerah.
Pertemuan itu berlangsung menjelang Muktamar Ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur. Gus Rozin menjadi salah satu figur yang disebut dalam bursa bakal calon Ketua Umum PBNU.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa persoalan utama yang perlu diselesaikan bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan bagaimana NU dapat keluar dari polarisasi dan kembali bergerak sebagai organisasi yang utuh.
Melalui gagasan poros tengah, Gus Rozin berharap seluruh elemen NU dapat meninggalkan ketegangan antarkelompok, memperkuat dialog, dan kembali memusatkan perhatian pada kepentingan organisasi serta pelayanan kepada umat. ***

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!